Jbm.co.id, Buleleng – Akibat saling klaim kepemilikan lahan sejak beberapa tahun lalu hingga berujung hari ini, 13 warga Banjar Dinas Batu Agung Ds. Gerokgak akhirnya menjadi korban, pasalnya pagar halaman yang mereka tempati ditutup pemiliknya.

Menurut ahli waris Putu Suganda (Alm), bernama Gusti Made Wijaya yang saat ini purnawirawan Kepolisian SPN Singaraja berpangkat AKBP asal Desa Pengastulan Kecamatan Seririt saat dimintai keteranganya di BPN Singaraja Rabu (24/3).Tanah warisannya di dusun tersebut mencapai 1.60 are sesuai persil, namun saat itu masih digarap oleh ayah Mangku Wijana (alias Kwi ) bernama Nyoman Sumiara (alm) berpuluh tahun.

Gusti Made Wijaya yang nota bene pada saat itu masih berdinas keluar daerah dan saudaranya juga memiliki kesibukan lain, kini diduga diklaim oleh Kwi pasalnya alm Sumara kakak dari Wijaya sempat berdinas di Polsek Gerokgak.

Menariknya Kadus Batu Agung, Abu Khairi memiliki tanah 30 are di obyek tersebut diduga melalui proses prona 2018.

Saat petugas BPN Singaraja melakukan pengukuran ulang menunjukan sertifikat obyek di Desa Patas 10 are ,36 are yang di beli dari Sumara kakak dari Gusti Made Wijaya.

Ayah Kwi padahal hanya penggarap sejak 1960 , sedangkan Nyanok 18 are kakak dari Kwi selaku penyanding tanah Wijaya.

Untuk mengetahui lokasi obyek tanah yang sebenarnya, pihaknya menggunakan aplikasi BPN , dan ternyata letak tanah tersebut benar di Banjar Dinas Batu Agung Desa Gerokgak sesuai sertifikat tahun 1965 yang dipegangnya.

Sebelumnya, Ahli waris di BPN telah melakukan mediasi selama 3 kali dengan bidang Sengketa, namun para ter-adu tidak Kunjung datang alias mangkir.

“Yang baru saya ketahui 1.60 are sebelum dipronakan belum / tanpa penghuni, dari aplikasi JIM ternyata obyek tersebut milik orang tua saya.

 

Di atas tanah itu ada 4 orang mengklaim, kita sudah mediasi 3 kali tidak kunjung datang. Kwi ini pegang sertifikat 36 are dan 10 are yang obyeknya di Desa Patas. Dari sertifikat itu mereka klaim tanah leluhur kami dan dibuatkan sertifikat melalui prona 2018 oleh Kadus.

Kami akan segera laporkan kasus ini penyerobotan tanah di lokasi di atas tanah kami,”ujar Gusti Made Wijaya.

Menurut Made Wijaya, proses kepemilikan lahan yang di klaim itu tanpa melalui prosedur yang benar bahkan tidak ada akta jual beli, selain itu, Oktober lalu Kwi juga sempat dilaporkan ke polisi telah memetik buah kelapa di atas tanah tersebut namun pihak kepolisian Gerokgak tidak serius menangani sehingga Made Wijaya memasang pagar dilahan miliknya, “Kalau dia beli pasti ada akta jual beli, kalau dia ahli waris harus ada silsilah, dugaan kami ada yang membuat keterangan dengan silsilah palsu. Dari Sinilah dugaan saya pasti banyak yang terlibat selain pejabat setempat pasti ada mafia tanah, ,” terangnya.

Diketahui ( alm ) I Putu Suganda, memiliki 2 orang Istri. Istri Pertama bernama Siti Hajijah asli Lombok memiliki anak laki -laki bernama Putu Sumara (alm) yang dulu statusnya polisi pindah dinas/ tugas di Kupang.

Sedangkan Istri kedua Suganda bernama Jro Made Kintari memiliki anak 10 orang yang salah satunya purnawirawan AKBP Gusti Made Wijaya.

Ahli waris (Alm) Putu Suganda akan melanjutkan perkara sengketa ini secara hukum Pidana. Bahwa tanah miliknya yang telah mengantongi SHM no 179 di atas SHM luas 160,50 M2 di mohon Sertifikat PTSL thn 2018 luas 3000 m2 atas nama Abu Khairi, Kadus Batu Agung, Desa Gerokgak dan diduga telah melakukan tindak pidana penyalahgunaan wewenang.

Di sisi lain, Kadus Batu Agung Desa Gerokgak dan Kwi telah memenuhi panggilan Unit 2 Polres Buleleng untuk diminta keteranganya.

Kades Gerokgak Kadek Surata saat dikonfirmasi diruang kerjanya selasa (23/3), sebelum Reskrim Polres Buleleng dan Polsek Gerokgak ke lokasi mengungkapkan.

“Kita serahkan kasus ini ke proses secara hukum dan mengupayakan agar jalan dan rumah warga yang ditutup supaya segera di buka nanti termasuk pihak yang mengklaim tanah tersebut akan di mintai keterangan,”Jelasnya. (Red/Jbm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here