Berita

Subak Mundeh Bermasalah Dengan Bantuan Klaim AUTP

JBM.co.id, Tabanan – Klaim Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) di Subak Mundeh bermasalah, disebabkan oleh sang penerima, yaitu petani, saat mengajukan “Klaim Asuransi” tidak sesuai dengan persyaratan dari 75 persen pencapaian kerugian hasil pertanian di Desa Nyambu, Kecamatan Kediri, Tabanan.

Inti permasalahannya, mestinya “Klaim Asuransi” diberikan kepada 23 petani, yang sawahnya 75 persen terserang hama tikus. Namun, petani yang mengalami kerusakan padi tak mencapai target 75 persen dan tempek subak pun, ikut mendapatkan klaim tersebut.

Selanjutnya, untuk penanganan masalah tersebut, Dinas Pertanian Tabanan dan instansi terkait, termasuk Kepolisian sudah turun tangan. Harapan para aparat, agar “Klaim Asuransi” yang dibagikan di luar 23 petani tersebut, segera dikembalikan sesuai dengan aturan klaim AUTP.

Permasalahan tersebut, terungkap oleh seorang warga bernama Jack Art alias I Wayan Artana yang mengunggah postingan di akun Suara Tabanan. Dalam postingan itu, dia mempertanyakan ada pembagian uang “Klaim Asuransi”, akibat dampak serangan hama tikus ke Tempek Kabayan, Subak Mundeh, sebesar Rp 2 juta.

“Waktu itu, saya menghadiri rapat banjar, saat itu ada penyampaian dari subak mendapat “Klaim Asuransi”, akibat hama tikus sebesar Rp 2 juta. Setahu saya, klaim AUTP didapat perorangan, sesuai dengan jumlah kerusakan. Karena itu saya mempertanyakan,” ungkap Artana saat dikonfirmasi media JBM.

Dari kejadian pembagian itu dan disinyalir ada masalah, jelas dia, Tempek Kabayan sepakat tidak menerima dulu uang tersebut. Karena sepengetahuanya “Klaim Asuransi” tidak mungkin ada dana lebih.

“Saya hanya mempertanyakan itu saja. Biar tidak ada isu-isu yang aneh di bawah. Akhirnya tanpa diduga Dinas Pertanian Tabanan sudah turun tangan,” imbuh Artana.

Secara konfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pertanian Tabanan, I Nyoman Budana menjelaskan, permasalahan tersebut, sudah ditangani.

Dijelaskan, Subak Mundeh, Desa Nyambu, Kecamatan Kediri, diusulkan, ikut AUTP dengan luasan 129,12 hektar dengan 309 warga petani. Dari luasan tersebut, jelasnya, yang kena serangan tikus dengan tingkat kerusakan padi 75 persen seluas 9,49 hektare dengan jumlah petani 23 orang.

Proses klaim sudah dicairkan oleh PT Jasindo, selaku pelaksana asuransi dengan jumlah Rp 56.940.000. Per hektar nilai klaim asuransinya, dibayar Rp 6 juta. “Klaim asuransi tersebut sudah dicairkan, sudah masuk ke rekening subak,” papar Kadis Pertanian Tabanan, saat dimintai keterangan lewat Medsos Whatshap.

Selanjutnya, Budana menambahkan juga, dalam proses pencairan ke anggota tidak mengikuti kaidah teknis, yang seharusnya dana tersebut, tidak hanya dibagikan kepada petani yang berhak, tetapi juga dibagikan kepada petani yang kena serangan hama tikus yang tidak sampai kerusakan padinya 75 persen.

Jumlahnya 13 orang dengan dana Rp 12 juta, serta dibagikan ke-6 tempek subak dengan jumlah masing-masing subak, menerima Rp 2 juta.

“Menurut keterangan Pekaseh, kebijakan itu diambil berdasarkan paruman dengan warga subak, pada 4 Maret 2021 lalu,” tegas I Nyoman Budana.

Menurut hasil dari turun ke lapangan, sesuai pengakuan Pekaseh, 13 petani yang ikut diberikan “Klaim Asuransi” dengan jumlah bervariasi, karena bersikeras untuk ikut mendapatkan bagian. Karena padi mereka juga terserang hama tikus, namun tingkat kerusakan yang tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan klaim. “Untuk itu, kami sudah sarankan yang menerima untuk mengembalikan kepada yang berhak mendapatkan klaim,” tandas Kadis Pertanian Tabanan.

Selama proses pengembalian tersebut, pihaknya sudah meminta bantuan dengan Bhabinkamtibmas dan Bhabinsa serta rekan PPL (penyuluh pertanian lapangan) untuk ikut mengawasi dan menangani proses pengembalian dana tersebut kepada yang berhak mendapatkan klaim tersebut,” jelasnya. (Tim/Jbm)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
%d blogger menyukai ini: