Dua Anaknya Sudah Masuk Muslim

JBM.co.id, Cilego (Merak) – Ketut Reni (76) berasal dari Banjar Geluntung Kaja Desa Geluntung, Marga, Tabanan, nyaris menabrakkan diri pada rel kereta api, yang melintas di jalan raya Cilegon-Merak.

Aksi bunuh diri itu diketahui terjadi, Sabtu (20/3) lalu Pukul 15.30 WITA, karena merasa depresi ditolak bertemu kedua anaknya.

Syukurnya nasib baik menyertai nenek Reni, saat beberapa meter kereta api mulai dekat, kakinya justru tersandung jatuh ke belakang dan akhirnya ia selamat.

“Saya menemukan nenek Reni dalam kondisi depresi,” ujar Gusti Mustika, umat Hindu yang beralamatkan di Desa Gerem, Kecamatan Gerogol, Lingkungan Kalibaru II, RT II RW IV, Cilegon, Banten.

Mustika menceritakan, nenek Reni kelahiran Geluntung, 9 Juli 1945 ini, hidup seorang diri pasca suaminya meninggal dunia 18 tahun lalu. Ia sebelumnya bertransmigrasi ke Lampung dan memiliki anak, yaitu Ni Wayan Sukaisih dan Made Wasa. Singkatnya, dua anaknya justru beralih menjadi muslim.

“Mereka punya harta di Lampung, dijual anak-anaknya yang masuk muslim. Nenek Reni kecewa dan hanya tinggal memiliki 1 pekarangan di Lampung lalu dijual untuk modal pulang ke Bali, pada 16 tahun lalu. Di Bali, ia juga mulai tidak nyaman karena tinggal sendiri dan konflik keluarga tidak bisa dihindari,” tuturnya.

Beberapa waktu lalu, Reni ingin bertemu anak-anaknya kembali, salah satunya ke rumah Wayan Sukasih di Cikarang. Di sana, konflik pun muncul antara Reni dan Sukasih, yang berujung pengusiran si anak terhadap orangtuanya.

“Kalau meme (Reni) janjinya akan diurus, nyatanya tidak sesuai harapan, setibanya di Cikarang. Dia diperlakukan seperti pembantu, diduga karena ingin menasehati si anak, justru dianggap mencampuri urusan pribadi,” katanya.

Dari Cikarang, lantas Reni ingin naik bus menuju Lampung, dia tidak sampai tujuan dan ketika tiba di Pelabuhan Merak, ia mengarahkan langkah kakinya ke Stasiun Merak.

“Saat dilanda kebingungan itu, Nenek Reni mencoba bunuh diri di atas rel kereta, kejadiannya kereta api tinggal 10-15 menit, akan datang. Nenek Reni masih jongkok di atas rel dan beruntung ditolong petugas kereta di Stasiun Merak,” ucapnya.

Nenek Reni pun, pamitan dengan petugas kereta api, dia berjalan di sekitar rel. Persisnya di belakang rumah Gusti Mustika ada rel kereta api. Mustika melihat Nenek Reni lewat berjalan kaki, tetapi dia tidak menghiraukan karena tidak kenal.

“Kereta sore hari lewat pukul 15.00 WITA, saat kereta akan datang nenek Reni merespons ingin menabrakan diri ke kereta, itu saya lihat di depan mata sendiri.

Mungkin belum kehendak Ida Sang Hyang Widhi, seolah-olah ada yang menarik nenek Reni, saat mau meloncat justru kepalanya seperti ditarik. Jatuh harusnya ke depan dia malah jatuh ke belakang,” katanya lagi.

Mustika lalu memanggil istrinya Ningsih, meminta supaya membantu nenek Reni dan dibawa ke rumah. Di dalam tas ditemukan secarik kertas berisi nomor kontak atas nama cucunya Dewi dan Aris, dan anak kandungnya Sukasih dan Made Wasa.

“Dari ceritanya, saya minta nenek Reni tinggal di rumah saya saja. Saya sudah menghubungi anak-anaknya, tetapi responnya kurang baik dan terkesan tidak peduli. Di awal anaknya Sukasih mengaku tidak kenal, lalu saat dibilang nenek Reni sempat akan bunuh diri akhirnya mengakui itu orangtuanya,” tegasnya.

Saat ini, nenek Reni masih sehat dan dibantu sementara tinggal bersama Gusti Mustika serta krama umat Hindu setempat. Ada sekitaran 300 KK umat Hindu yang terpencar di Provinsi Banten. (Tim/Jbm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here