Berita

Ritual Barong Ider Bumi, Tradisi Ratusan Tahun Yang Tetap Lestari

JBM.co.id, Banyuwangi – Masyarakat Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, masih memegang teguh dan tetap melestarikan upacara tradisional Barong Ider Bumi.

Ritual tradisi yang sudah berusia 179 tahun lalu itu, dilaksanakan setiap tanggal 2 Syawal. Dengan ritual Barong Ider Bumi, masyarakat Desa Kemiren percaya akan dijauhkan dari segala bentuk bala atau bencana.

Tradisi Barong Ider Bumi, digelar dengan beragam acara, namun yang utama adalah adanya arak-arakan barong yang diiringi dengan musik tradisional berupa gamelan. Kegiatan ini dimulai selepas Asar, dimulai dari pintu masuk desa sampai akses keluar desa.

”Ritual tradisional Barong Ider Bumi ini sudah berusia ratusan tahun mas.

Masyarakat Kemiren meyakini, dengan ritual ini akan terhindar dari segala bala atau bencana. Sampai sekarang Alhamdulillah tetap dilestarikan.

Ini menjadi menarik, dan bisa menjadi salah satu obyek wisata budaya yang ada di Banyuwangi,” tutur Sarjito, warga Banyuwangi yang tidak pernah absen mengikuti kegiatan ini, beberapa waktu lalu.

Barong, menurut keyakinan masyarakat Desa Kemiren, adalah makhluk mitologi yang bertugas menjaga desa dari segala bentuk marabahaya.

Pada saat dilaksanakan ritual ini, warga Desa mengikuti arak-arakan dengan menggunakan baju adat Using berwarna hitam.

Di sepanjang jalan saat prosesi ritual berlangsung, tokoh adat masyarakat Using menebarkan uang koin yang dicampur dengan bunga dan beras kuning.

Kemiren, merupakan salah satu perkampungan Suku Osing, yang merupakan penduduk asli Banyuwangi. Desa Kemiren, dikenal sebagai salah satu kawasan cagar budaya, dimana adat istiadat maupun budaya tetap terjaga dan lestari.

Menurut tokoh masyarakat setempat, Barong dipercaya sebagai perwujudan nilai-nilai kebaikan dan keadilan.

Ia juga merupakan figur yang senantiasa melawan kekuatan jahat yang dipimpin oleh perwujudan iblis bernama Rangda.

Ritual Barong Ider Bumi, sangat kental menjunjung tinggi nilai tradisi dengan melestarikan budaya dan kesenian para leluhur. (Tim/Jbm)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
%d blogger menyukai ini: