JBM.co.id, Denpasar – Pembimbing Kemasyarakatan (PK) Bapas Kelas I Denpasar, I Putu Meiantara Pranata dan I Nyoman Darma Setiawan melakukan pendampingan eksekusi putusan Pengadilan Negeri Denpasar terhadap Perkara Anak yang terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana pasal 363 KUHP tentang pencurian.

Dalam amar putusannya, Hakim Pengadilan Negeri Denpasar memutuskan untuk memberikan tindakan kepada Anak berupa pelatihan Kerja selama 4 bulan di Yayasan Mercy Indonesia Jalan Intan LC, Gang IV No 1 Denpasar, Jumat (19/3/2021)

Dimana Yayasan Mercy Indonesia Denpasar ini juga merupakan mitra Kelompok Masyarakat Peduli Pemasyarakatan (Pokmaslipas) Bapas Kelas I Denpasar.

Tercatat diregistrasi Bapas Kelas I Denpasar per tanggal 17/3/2021, klien dan permintaan litmas bimbingan klien anak berjumlah 22 orang dengan tindak pidana, kasus narkotika, pencurian, kesusilaan dan kasus lainnya.

Hadir dalam kegiatan ini Kepala Bapas Kelas I Denpasar, Ni Luh Putu Andiyani, Kepala Bimbingan Klien Bapas Kelas I Denpasar, Yogi Hitawati, Jaksa Fungsional Kejari Kabupaten Badung, Bunga Ronifia Farihah, Pekerja Sosial Dinas Sosial Badung Putu Ratih Kusumadewi, Kuasa Hukum I Made Bandem Dananjaya, SH, MH, dan kedua orang tua ABH (Anak berhadapan dengan hukum).

Kepala Bapas Kelas I Denpasar, Ni Luh Putu Andiyani didampingi Kepala Bimbingan Klien Anak, Bapas Kelas I Denpasar, Putu Yogi Hithawati, S.H.,M.H., menyatakan, serah terima putusan hukum berupa pelatihan kerja merupakan tupoksi dari Bapas Kelas I Denpasar dalam mendampingi ABH, dari awal ditangkap karena melakukan pelanggaran hukum, diproses hukum hingga putusan pengadilan berupa sanksi pelatihan kerja,” ungkapnya.

Ditambahkan, PK Bapas Denpasar selama ABH menjalani pelatihan kerja ikut mengawasi dan selalu kordinasi dengan pihak Yayasan Mercy Indonesia Denpasar, mudah mudahan dengan pelatihan kerja yang diperoleh bisa bermanfaat bagi ABH.

Sementara, Kuasa Hukum ABH, I Made Bandem Dananjaya,S.H.,M.H., sangat berterima kasih kepada pihak Bapas dan Dinas Sosial yang telah mendampingi proses hukum klien kami, yang berjumlah 2 orang ABH.

“Kami juga mengapresiasi pihak Kejaksaan, yang memberi tuntutan bersifat edukatif dan ini berguna, untuk masa depan klien kami. Juga pihak pengadilan, yang memvonis 4 bulan berupa hukuman pembinaan,” tegasnya.

“Hari ini, menjadi moment bersejarah dalam proses eksekusi terhadap ABH, dimana pihak Bapas, Kejaksaan, Kemensos atau Dinas Sosial beserta saya selaku kuasa hukum terpidana kedua orang ABH menempatkannya di Yayasan Mercy Indonesia, guna menjalani putusan pelatihan kerja selama 4 bulan.

Kami, juga mohon dukungan kepada masyarakat dan institusi terkait, betul-betul mengawasi jalannya eksekusi, agar berjalan dengan baik, karena tujuannya bersifat edukatif.

Kedepannya, setelah keluar menjalani eksekusi, ada bekal keterampilan untuk masa depan” paparnya.

“Tak lupa, saya sebagai kuasa hukum anak yang dieksekusi, sangat berterima kasih kepada pihak Bapas Kelas I Denpasar, yang tak henti-hentinya, memberikan pendampingan ABH serta mengawasi jalannya eksekusi anak, agar memperoleh proses hukum yang proporsional.

“Selanjutnya, saya acungkan jempol buat Bapas, saat proses pendampingan beserta pemgawasannya, tidak ada pungutan biaya apapun dikenakan untuk klien kami. Sudah sepantasnya, Bapas Kelas I Denpasar mendapat predikat WBK (Wilayah Bebas dari Korupsi) sebagai institusi yang bekerja profesional sesuai tupoksinya,”bebernya.

Dukungan juga diberikan Jaksa Fungsional Kejari Kabupaten Badung, Bunga Ronifia Farihah, yang menyerahkan ABH ke Yayasan Mercy Indonesia, agar sang anak dibina menjadi lebih baik lagi dan semoga hubungan kerjasama pihak Kejaksaan dan Bapas semakin terjalin erat,” harapnya.

Salah satu pekerja sosial Kemensos di dinas sosial Kabupaten Badung, Putu Ratih Kusumadewi K.P. sangat mendukung putusan hakim, karena anak yang melanggar hukum diberi bimbingan pelatihan kerja selama 4 bulan.

Kedepannya, kerjasama kami dengan Yayasan Mercy Indonesia tetap terjaga dengan baik. Demikian juga, dengan pihak Bapas, harapannya, agar Bapas menjadi WBK (Wilayah Bebas dari Korupsi),” imbuhnya.

Koordinator Yayasan Mercy Indonesia, sekaligus selaku penanggung jawab ABH serta pelayanan penjara, Rudy Tuah Saragih, mengucapkan terima kasih banyak kepada pihak Bapas Kelas I Denpasar, Kejaksaaan, Kehakiman dan Kemensos serta pihak terkait, yang telah memberikan kepercayaan untuk menerima ABH, agar tidak melakukan pelanggaran hukum lagi.

Di Yayasan Mercy, dua orang ABH ini, akan diberikan pelatihan keterampilan membuat keset, telur asin dan membuat hidroponik serta pelatihan membuat aneka kue beserta roti bakar.

Namun, yang paling utama adalah pembinaan karakter, karena melalui pembentukan karakter, ABH akan menyadari atas pelanggaran hukum dan tidak mengulangi perbuatannya,” jelasnya.

Khusus untuk Bapas, kami ucapkan terima kasih yang spesial, karena kerjasamanya telah terjalin lama dan ikut serta memberikan pembinaan terhadap ABH. Ke depannnya, besar harapan kami, Bapas Kelas I Denpasar mendapatkan predikat WBK (Wilayah Bebas dari Korupsi).” pungkasnya. (Tim/Jbm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here