Opini Publik

Optimalisasi Momentum Transformasi BUMN Menjadi Perusahaan Kelas Dunia

Penulis : Bung FE (Ir. Feriko Sitepu, M.P.W.K.) *)

BUMN memiliki peran sangat strategis dalam sistem perekonomian nasional, yakni sebagai pelaksana pelayanan publik; penyeimbang kekuatan-kekuatan swasta besar; dan turut aktif dalam pemberian bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah, koperasi dan masyarakat. Dengan demikian, BUMN berfungsi sebagai agen pembangunan sekaligus diharapkan memberikan kontribusi finansial secara signifikan. Tentu bukan tugas mudah, sehingga harus jujur diakui bahwa sampai saat ini kinerja BUMN belum sepenuhnya sesuai harapan.

Kenyataan belum optimalnya kinerja BUMN tersebut dikarenakan adanya tantangan eksternal, seperti ketidakpastian global, dan berbagai aspek permasalahan BUMN ataupun Kementerian BUMN, seperti: aspek strategi, aspek keuangan, aspek tata kelola/regulasi, dan aspek SDM.

Walaupun demikian, sebenarnya BUMN memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Data menunjukkan: beberapa BUMN sudah menjadi sector leader atau mulai masuk pasar global, seperti sektor perbankan, sektor farmasi dan sektor migas; adanya dampak positip pembangunan massif di berbagai sektor; dan kontribusi BUMN terhadap PDB masih belum optimal, sehingga ruang pengembangan relatif besar.

Disamping itu, kita masih memiliki berbagai modal pendukung lain.Oleh karena itu, peningkatan kinerja dan daya saing BUMN secara efektif mutlak harus dilakukan agar BUMN dapat menjalankan perannya secara optimal dan memberikan kontribusi terbaik.

Ir. Feriko Sitepu, M.P.W.K
Ir. Feriko Sitepu, M.P.W.K

Untuk itu, momentum transformasi BUMN harus segera dibangun dan dioptimalkan (“if not now when?”) untuk akselerasi dan peningkatan efektivitas perwujudan BUMN menjadi perusahaan kelas dunia. Ini adalah harapan Bapak Jokowi dengan mengatakan: “… agar BUMN tidak hanya jago kandang, namun harus mampu berkiprah di ajang regional, bahkan global”.

Kita mengapresiasi upaya Bapak Erick Thohir selaku Menteri BUMN yang telah menyelaraskan program Kementerian BUMN sesuai keinginan Bapak Jokowi dengan menetapkan lima prioritas strategis Kementerian BUMN untuk meningkatkan kinerja, daya saing dan peran BUMN. Kelima prioritas Kementerian BUMN tersebut, adalah:

A. Nilai Ekonomi Untuk Indonesia

Meningkatkan nilai ekonomi dan dampak sosial terutama di bidang ketahanan pangan, energi, dan kesehatan.

B. Inovasi Bisnis

Restrukturisasi model bisnis melalui pembangunan ekosistem, kerjasama, perkembangan kebutuhan stakeholders, dan fokus pada core business.

C. Kepemimpinan Teknologi

Memimpin secara global dalam teknologi strategis dan melembagakan kapabilitas digital, seperti data management, advanced management, big data, artificial intelligence, dll.

D. Peningkatan Investasi

Mengoptimalkan nilai aset dan menciptakan ekosistem investasi yang sehat.

E. Pengembangan Talenta

Mengedukasi dan melatih tenaga kerja, mengembangkan SDM berkualitas untuk Indonesia, profesionalisasi tata kelola dan sistem seleksi SDM.

Oleh karena itu, dalam rangka mendukung dan mewujudkan keinginan Presiden Jokowi serta meningkatkan efektivitas dan percepatan penerapan kelima prioritas Kementerian BUMN tersebut, maka setiap BUMN seharusnya segera menyusun cetak biru (blueprint) untuk melakukan peningkatan kinerja dan transformasi menjadi perusahaan kelas dunia, sesuai karakteristik dan dinamika industri yang dihadapi oleh setiap BUMN (tailor-made).

Efektivitas BUMN akan tercapai apabila pengembangan cetak biru (blueprint) peningkatan kinerja dan transformasi BUMN dilakukan berdasarkan model/framework yang sederhana sesuai best practices (praktik terbaik) dan proven methodologies (metodologi teruji). Penulis yakin, efektivitas (kekuatan) sesungguhnya terletak pada “kesederhanaan”, yakni model/framework yang sederhana, bukan pada kompleksitas (model/framework yang kompleks), karena model/framework yang kompleks akan sulit dipahami apalagi diimplementasikan.

Jika di level pemahaman saja sudah sulit, maka di level implementasi akan sulit, bahkan akan lebih sulit lagi, karena akan melibatkan seluruh karyawan dari berbagai level organisasi (dari level tertinggi sampai terendah).

Dalam rangka pengembangan model/ framework yang sederhana tersebut, namun efektif dalam pengembangan/penyusunan cetak biru (blueprint) peningkatan kinerja dan transformasi BUMN menjadi perusahaan kelas dunia, penulis tertarik membahas model/framework 4P dalam buku “Strategy-led Transformation” (Indra Susanto, 2016), suatu model pengembangan anak bangsa alumni Booz Allen Hamilton yang telah berpengalaman menangani berbagai perusahaan terkemuka (BUMN, swasta, perusahaan asing) baik dalam maupun luar negeri. Keempat faktor (P) dari model/framework 4P dalam buku “Strategy-led Transformation” dapat diuraikan sebagai berikut:

1. PUSH (P1)
BUMN sebaiknya melakukan identifikasi permasalahan utama (“burning platform”) yang dihadapi secara komprehensif dan obyektif. Permasalahan yang dihadapi oleh BUMN dalam satu industri tertentu cenderung berbeda dengan industri yang lain. Bahkan, walaupun berada dalam satu industri yang sama, BUMN (perusahaan) yang berbeda juga cenderung menghadapi permasalahan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, identifikasi dan analisis terhadap permasalahan utama yang dihadapi oleh BUMN harus dilakukan secara komprehensif dan obyektif. Pemahaman yang tepat dan obyektif terhadap permasalahan-permasalahan utama yang dihadapi dapat memberikan “energi” (daya dorong (PUSH)) kepada BUMN dalam melakukan usaha peningkatan kinerja dan transformasi.

2. PULL (P2)
Untuk meningkatkan energi (daya, gaya) dalam melakukan peningkatan kinerja dan transformasi, maka BUMN sebaiknya melakukan analisis (kualitatif dan kuantitatif) terhadap manfaat kongkrit dan dampak positif dari usaha/program peningkatan kinerja dan transformasi. Pemahaman yang tepat dan obyektif terhadap manfaat kongkrit dan dampak positif (“burning desire”) dapat memberikan “energi” (daya tarik (PULL)) kepada BUMN dalam melakukan usaha peningkatan kinerja dan transformasi.

3. PRIORITIZE (P3)
Survei (pengalaman) membuktikan kegagalan usaha peningkatan kinerja dan transformasi sering kali bukan disebabkan oleh sedikitnya program, namun justru karena program terlalu banyak dan tidak terintegrasi serta tidak memiliki prioritas yang tepat. Oleh karena itu, BUMN harus mengembangkan program efektif dengan prioritas tepat sesuai dengan karakteristik dan strategi perusahaan (“tailor-made”, “no one-size-fits-all solutions”) berdasarkan best practices (praktik terbaik) dan proven methodologies (metodologi teruji).

4. PERVADE (P4)
Usaha peningkatan kinerja dan transformasi sering mengalami kegagalan karena tidak dikelola secara efektif. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam melakukan segala sesuatu, termasuk dalam pengelolaan usaha peningkatan kinerja dan transformasi, umumnya ada best practices (praktik terbaik) yang sebaiknya diikuti dan diterapkan.

Oleh karena itu, BUMN harus menerapkan best practices (praktik terbaik) dalam usaha peningkatan kinerja dan transformasi menjadi perusahaan kelas dunia agar efektif dan berhasil.

“Transformasi BUMN menjadi perusahaan kelas dunia” merupakan jawaban terhadap peran BUMN yang sangat strategis dalam sistem perekonomian nasional.

Keberhasilan transformasi BUMN tidak hanya akan memberikan kontribusi finansial secara signifikan, tapi juga akan dapat melaksanakan peran-peran lain, misalnya sebagai “Bapak Angkat” atau lokomotif pemberdayaan UMKM, koperasi dan masyarakat secara berkelanjutan. Inilah pilar penyokong Indonesia maju yang kita cita-citakan itu.

Itu sebabnya, penulis memberikan apresiasi atas terobosan Bapak Erick Thohir dalam pengembangan dan penerapan platform PaDi UMKM. Platform PaDi UMKM yang merupakan market place dapat mempertemukan BUMN dengan pelaku UMKM. Hal ini merupakan perwujudan nyata keberpihakan pemerintah, khususnya Kementerian BUMN, kepada pelaku UMKM atau perusahaan lokal.

Sejalan dengan semangat keberpihakan ini, selayaknya usaha pendampingan BUMN-BUMN dalam penyusunan cetak biru (blueprint) peningkatan kinerja dan transformasi BUMN menjadi perusahaan kelas dunia tersebut juga melibatkan perusahaan konsultan lokal (UKM).

Kementerian BUMN sebaiknya tetap menunjukkan keberpihakan dan mendorong perusahaan lokal yang mumpuni (memiliki pengalaman ekstensif di perusahaan konsultan global terkemuka) untuk berpartisipasi seluas-luasnya dalam transformasi BUMN, sehingga menghasilkan kualitas pekerjaan yang setara dengan konsultan asing, namun dengan biaya yang jauh lebih murah.

Hal ini tentu sangat relevan terutama di tengah pandemi Covid-19 yang sangat memerlukan efisiensi biaya dan penghematan devisa negara (“sense of crisis”) tanpa mengorbankan efektivitas dan kualitas pekerjaan.

Penulis meyakini bahwa Bapak Erick Thohir dan Wamen BUMN memiliki kapasitas, kemampuan dan keberanian yang diharapkan serta telah memiliki rencana strategis yang baik. Oleh karena itu, selayaknya transformasi BUMN menjadi perusahaan kelas dunia, yang menjadi harapan Bapak Jokowi dan kita semua, dapat terealisasi secara efektif dan efisien dengan melibatkan perusahaan lokal dan anak bangsa dengan kompetensi kelas dunia.

Kepercayaan itu akan sangat bermanfaat dalam menumbuh-kembangkan jati diri anak bangsa menuju Indonesia maju. Harapan kita bersama agar BUMN selalu dan tetap dapat menjalankan peran strategis dalam berbagai kesempatan termasuk dalam pemberian kesempatan perusahaan lokal dan anak bangsa dalam penyusunan cetak biru (blueprint) peningkatan kinerja dan transformasi BUMN menjadi perusahaan kelas dunia.-

*) Pengamat Manajemen & Ketum Yay. UMKM Indonesia

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
%d blogger menyukai ini: