JBM.co.id – Urgensi saat ini untuk sektor perdagangan luar negeri dilihat dari sisi nilai, pertumbuhan ekspor nonmigas tahun 2020 terkontraksi sebesar -0,57%, ekspor per kapita Indonesia stagnan selama 2 dekade, ekspor Indonesia masih berbasis komoditas, jumlah pelaku ekspor masih sedikit dari total pelaku industri besar dan menengah hanya 18,7% yang melakukan ekspor dan adanya hambatan untuk memulai ekspor, kinerja ekspor dan produktivitas terkendala dari sisi _supply_ seperti akses bahan baku, kemampuan inovasi, akses pembiayaan, dan investasi dan kinerja ekspor dipengaruhi oleh kondisi dunia yang masih belum stabil.

Oleh karenanya, fokus pemulihan ekonomi tahun 2022 untuk sektor perdagangan luar negeri akan dilakukan dengan 5 strategi: (1) Pelaksanaan Rencana Aksi Peningkatan Ekspor; (2) Perkuatan fasilitasi perdagangan: penyederhanaan prosedur perdagangan, peningkatan akses pembiayaan ekspor, dan pemanfaatan teknologi digital; (3) Penurunan biaya memulai ekspor atau sunk costs melalui pelayanan informasi ekspor terintegrasi meliputi _market intelligent_, _Inatrade_, FTA center, dan Export center; (4) Akselerasi peningkatan jumlah 1eksportir baru melalui penguatan SDM ekspor; (5) Pelaksanaan promosi dan _business matching_ secara _virtual_.

Sementara itu, dari sisi Reformasi Struktural akan dilakukan dengan harmonisasi kebijakan perdagangan dan industri yang _outward looking_, peningkatan produktivitas dan daya saing ekspor, optimalisasi pemanfaatan perjanjian perdagangan seperti PTA,FTA,CEPA dan diplomasi ekonomi, efisiensi dan perluasan akses logistik perdagangan internasional, dan meningkatkan partisipasi pelaku usaha dalam ekspor jasa.

Dari sisi perdagangan dalam negeri, urgensinya adalah terdapat Perubahan tren konsumsi masyarakat pasca pandemi Covid-19, yang mengarah ke digitalisasi, Penurunan pendapatan gerai ritel hingga 90%, Penurunan jumlah pengunjung gerai ritel hingga 20%, Tingginya variasi harga antar wilayah, terutama harga bahan pokok dan penting yang relatif tinggi di daerah kepulauan dibandingkan daratan, Adanya risiko kesehatan di pasar rakyat dan Kurangnya efisiensi kinerja logistik di Indonesia yang menjadi faktor penting untuk daya saing ekonomi.

Fokus pemulihan ekonomi tahun 2022 untuk sektor perdagangan dalam negeri akan dilakukan dengan empat strategi. Pertama, menjaga pasokan dan stabilitas harga bahan pokok dan bahan penting. Kedua, Peningkatan pemanfaatan sarana prasarana perdagangan dalam negeri. Ketiga, peningkatan kapasitas pelaku usaha perdagangan dan pemanfaatan teknologi informasi dan _e-commerce_. Keempat, penerapan protokol kesehatan di pasar rakyat dan gerai ritel lainnya.

Sementara itu, dari sisi Reformasi Struktural akan dilakukan dengan peningkatan kualitas penyelenggaraan dan kelembagaan perlindungan konsumen, termasuk antisipasi terhadap perkembangan digitalisasi dan perdagangan lintas negara; peningkatan kemudahan transaksi dan efisiensi perdagangan antar pulau antar daerah; dan penguatan pasar untuk mendukung ekonomi. (Tim/Jbm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here