JBM.co.id, Denpasar – Beberapa hari terakhir ini marak di Medsos,terutama di group-group WA dishare imbauan kepada masyarakat agar di saat menyampaikan ungkapan bela sungkawa agar tidak lagi menggunakan kalimat “Amor Ing Acintya, Swargantu, Moksantu,” dan seterusnya.

Di sana juga meminta dengan kalimat berbahasa Bali agar tidak lagi mengunggah, menyebarkan dan mengshare di Medsos kalimat yang dianggap sakral tersebut.Lebih lanjut dalam tulisan tersebut meminta bila ingin mendoakan orang yang meninggal agar menggunakan bahasa yang sudah lumrah.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Parisadha Bali, Prof.Dr.Drs.I Gusti Ngurah Sudiana,Msi. mengharapkan kepada Umat Hindu agar tidak mudah grasa -grusu mengikuti imbauan yang beredar di Medsos yang tidak jelas sumber dan kebenarannya.”Om Swastyastu, kami selaku Parisadha Provinsi Bali mengharapkan agar umat Hindu tidak tergesa- gesa mempercayai imbauan atau apapun istilahnya yang sering dishare di Media Sosial yang sumber dan kebenaranya belum bisa dipertanggungjawabkan.

Jangan pula gampang mau ikut menyebarkan sehingga tidak makin banyak umat yang dibikin bingung.

Perlu Tiang tegaskan kembali bahwa dalam mengucapkan bela sungkawa atau duka cita di kalangan Umat Hindu kan sudah ada sastranya, yaitu berdasarkan Sastra Pitra Puja yang sudah diputuskan oleh PHDI dan disusun dalam sebuah buku saku yang berjudul: “Doa Sehari-hari Menurut Hindu.” Untuk ucapan bela sungkawa berbunyi sebagai berikut:”Om Swargantu, moksantu, murcantu, sunyantu. Om ksama sampurnaya namah swaha,” lengkap dengan artinya,” terang Prof.Sudiana.

Dan lebih lanjut Rektor IHDN ini menjelaskan bahwa untuk kalimat: “Amor Ing Acintya” sumber sastranya adalah Pitra Puja yang sudah umum digunakan oleh Umat Hindu di seluruh Indonesia yang juga sudah diputuskan oleh Parisadha dan bisa digunakan untuk mendoakan orang yang meninggal. “Jadi,umat kita tidak dilarang mengucapkan”Amor Ing Acintya”yang mengandung makna sama dengan mengucapkan “Om Swargantu, moksantu, murcantu, sunyantu, Om ksama sampurnaya namah”. Itu boleh tetap digunakan untuk mendoakan orang yang meninggal.

Tiang mohon agar Umat Hindu tidak melanjutkan mengeshare imbauan yang sumbernya tidak jelas agar tidak mudah terombang-ambing oleh hal- hal yang dapat membingungkan pemahaman kita,”pintanya mengakhiri percakapan via handphone dengan awak media. (Tim/Jbm)

8 KOMENTAR

  1. suksma atas pencerahan Pak prof.
    Tanggapan yang pas tepat cepat yg diperlukan
    oleh Krama Hindu utk mengajegkan nilai nilai Hindu

  2. Terima kasih atas penjelasan dari Prof Sudiana sebagai ketua lembaga tinggi umatt Hindu, Niki salah satu bentuk tanggung jawab institusi resmi karena keluar dari seorang yg memimpin Ketua lembaga tertinggi umat Hindu, hendaknya ke depan PHDI selalu memberikan pembinaa kepada umatnya, tentu dengan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual. Jaya PHDI πŸ™πŸ™πŸ™

  3. om swastyasyu,, matur suksma phdi,, pak prof. Sudiana memberi tanggapan cepat terhadap masalah agama yg sensitif dlm era globalisasi,, digitalisasi,, dan mohon peran lebih aktif dari phdi dlm pencerahan yg berbasis akademis..Terimakasih

  4. Apa yang paling diucapkan bila mendengar ada teman atau keluarga yg meninggal. Yang sesuai dengan veda. Mohon petujuk nya pak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here