JBM.co.id, Singaraja – Keluarga besar I Kadek Astawan (30) menggelar upacara ngaben di setra Desa Adat Pemuteran. Puncak upacara ngaben digelar Rabu (3/3) siang.

Upacara ngaben dilaksanakan paska sebulan lebih jasad Kadek Astawan hilang misterius dan belum ditemukan. Korban hilang saat memanah ikan bersama lima (5) orang rekannya di laut lepas Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, pada Selasa (26/1) lalu.

Terdapat kisah mistis dibalik hilangnya sang pemanah ikan yang diceritakan Ni Kadek Sri Astuti (28) selaku istri I Kadek Astawan saat ditemui di rumah duka di Banjar Loka Segara.

Astuti mengaku, sejak sebulan hilang, dirinya kerap mimpi didatangi arwah sang suami Astawan.

“Hanya bisa pasrah menunggu kabar sejak dibilang hilang memanah. Dua minggu berturut-turut mimpi suami. Pertama itu, saat didatangi, suami datang dengan busana putih, ketika datang hanya senyum-senyum, dan tidak bicara. Lalu, minggu kedua, lagi didatangi. Sempat komunikasi, bilangnya sih mau ngarit (nyabit) cari makanan sapi untuk ternak peliharaannya,” ucap Astuti dengan mata berkaca-kaca.

Sebelum kabar memilukan hilangnya sang suami sampai ke telinganya, Astuti tak memiliki firasat buruk apapun. Meski begitu, terdapat sesuatu yang janggal dirasakannya. Sebelum pamit ke laut, mendadak suami minta dibelikan kue untuk bekal perjalanan memanah ikan.

“Pagi itu, belanja ke pasar. Kemudian, suami kok tumben nitip, minta dibelikan jajan. Kata suami, belikan jajan yang enak-enak ya, untuk bekal kesana (memanah ikan),” kenang Astuti.

Nah, setelah tiga (3) hari Astawan dikabarkan hilang. Keluarga Astawan memutuskan menempuh jalur niskala dengan menghaturkan sesajen di tengah laut, persisnya di rumpon tiga roda merupakan lokasi kejadian. Sesajen dipersembahkan dengan maksud untuk meminta petunjuk, lengkap mengajak seorang paranormal.

Nah, rombongan keluarga lantas bergegas berangkat ke tengah laut menghaturkan sesajen. Setelah 1 jam lamanya, speed boat ditumpangi sudah mendekati rumpon tiga roda merupakan lokasi kejadian.

Berjarak sekitar 50 meter dari rumpon tiga roda, rombongan keluarga Astawan hendak menghaturkan sesajen itu, tiba-tiba dihadang sekawanan dolpin. Tak hanya dolpin, terdapat seekor paus berukuran cukup besar ikut menghadang.

Tak pelak, melihat fenomena itu, keluarga korban beserta paranormal memutuskan berhenti seraya menjauh. Mereka khawatir, para penghuni laut tersebut bakal menyerang speed boat ditumpangi rombongan tersebut.

“Kesana-kemari nanya ke orang pintar dan paranormal. Menurut paranormal, suami saya itu punya kesalahan dibawah laut. Nembak ikan duwe merupakan penjaga laut. Para penghuni laut marah dan suami saya dijadikan tawanan penghuni laut.

Hasil metuun, dikatakan suami saya sudah meninggal. Suami (Astawan) minta dibuatkan upacara ngaben supaya bersih dan dibebaskan dari tawanan penghuni laut,” tutupnya.

Sekedar mengingatkan, seorang nelayan asal Banjar Dinas Loka Segara, Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, I Kadek Astawan (30), dilaporkan hilang saat mencari ikan dengan spearfishing atau menembak di perairan setempat, Selasa (26/1) siang.

Informasi dihimpun, korban Kadek Astawan berangkat mencari ikan dengan naik perahu dari Pelabuhan Pemuteran dengan jarak tempuh sekitar 1 jam, dan berangkat bersama 5 temannya dalam satu perahu. Mereka kemudian melakukan spearfishing di sekitar Rumpon Tiga Roda perairan Desa Pemuteran.

Entah apa yang terjadi, saat rombongan nelayan sekampung tersebut hendak pulang sekitar pukul 13.00 siang, korban Kadek Astawan tidak muncul ke permukaan. Kelima rekannya pun berinisiatif mencari korban di sekitar lokasi. Namun, hingga pukul 15.00 sore, korban belum juga ditemukan. (Tim/Jbm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here