Oleh : Gunawan Benyamin *)

Memang tren ke depan itu adalah pembentukan mata uang digital. Bukan bentuk uang elektronik atau uang cash seperti yang berlaku sekarang ini. Tetapi pembentukan mata uang digital tersebut bukan berarti tanpa hambatan. Disrupsi ekonominya signifikan, jika Bank Sentral Indonesia mengeluarkan mata uang digital tersebut.

Bayangkan saja, jika BI selesai menerbitkan mata uang digital. Nah berarti kita sebagai masyarakat tentunya berkesimpulan bahwa uangnya tersimpan di Bank Indonesia. Bukan di Bank Komersial lagi. Nah lantas bagaimana nantinya peran Bank Komersial ke depan. Bagaimana nantinya roda ekonomi itu diputar.

Jika semua masyarakat uangnya ada di Bank Sentral karena uang digital. Nanti muncul pertanyaan, pengusaha kalau mau minjam uang ke Bank Sentral kah? Sudah tidak ke Bank Komersial lagi?. Jadi memang tidak mudah untuk menentukan model uang digital itu nantinya. Dibutuhkan kajian yang mendalam.

Jangan sampai mata uang digital itu muncul, lantas tatanan ekonomi masyarakat justru menjadi bermasalah. Kajian ini butuh waktu lama, dan saya yakin tidak akan terealisasi dalam waktu segera 2 atau 3 tahun ke depan. Dan sejauh ini, pengembangan uang digital menurut saya masih ditatanan konseptual atau perencanaan, belum lagi di tatanan teknis. Masih banyak hal lain yang harus dipersiapakan seperti infrastruktur, teknis pembayaran, sumber daya manusia dan masih banyak lagi.

Pengamat Ekonomi Gunawan Benyamin
Memang kita tidak bisa menghindar dari perubahan zaman. Tren ke depan itu uang bukan lagi bentuknya kertas. Tetapi memang arahnya ke digital. Jadi berbeda dengan seruan agar menggunakan emas dan perak yang diinisiasi oleh sejumlah elemen masyarakat belakangan ini.

Baca Juga :  PPnBM Kendaraan 0%, Bukan Jaminan Pulihkan Sektor Otomotif

Ruang dan waktu kita saat ini membutuhkan pengembangan uang yang mampu menjawab tuntutan zaman. Jadi memang sebaiknya emas atau perak lebih digunakan sebagai instrumen investasi pada saat ini. Kita tidak bisa mempertahankan status lama (quo) apalagi justru berbalik ke zaman barter.

Uang Digital Tidak Sama Dengan Bitcoin

Masyakarat belakangan ini kerap menganggap bahwa uang digital yang sudah ada itu adalah Bitcoin. Padahal Bitcoin itu tidak melaksanakan fungsi moneter sama sekali. Buat saya Bitcoin itu lebih kepada instrumen yang diperjual-belikan layaknya instrumen keuangan yang tidak memiliki underlying tertentu dan diterbitkan oleh otoritas keuangan resmi. Jadi Bitcoin itu tidak sama dengan uang digital.

Kalau uang digital itu kan dikeluarkan oleh Bank Sentral. Misal, Bank Indonesia menerbitkan uang digital. Maka tentunya uang digital tersebut nantinya akan tetap beredar sesuai dengan perputaran roda ekonomi di sebuah Negara. Jadi kalau misalkan terjadi ekspansi ekonomi atau terjadi resesi ekonomi seperti yang terjadi saat ini.

Maka Bank Sentral akan melakukan penyesuaian jumlah uang atau uang digital yang beredar. Seperti kondisi resesi saat ini, maka bank sentral melakukan sejumlah kebijakan untuk memompa likuiditas ke masyarakat dengan sejumlah instrument kebijakannya. Seperti burden sharing, yang secara tidak langsung bisa diterjemahkan bahwa disaat masyarakat kesulitan ekonomi.

Bank Indonesia memperbanyak likuiditas uang ke masyarakat. Sehingga masyarakat lewat pemerintah bisa mendapatkan bantuan sosial. Itu yang terjadi saat ini, dan tentunya hal tersebut tidak dilakukan oleh Bitcoin. Karena Bitcoin tidak bertanggung jawab terhadap kondisi ekonomi sebuah Negara.

Baca Juga :  Optimalisasi Momentum Transformasi BUMN Menjadi Perusahaan Kelas Dunia

Bitcoin tidak melakukan seperti apa yang dilakukan Bank Sentral. Artinya disaat ekonomi resesi seperti sekarang ini. Bitcoin tidak akan berkontribusi apapun dalam menyelesaikan masalah resesi di sebuah Negara. Dan tidak terlibat dalam urusan moneter sebuah Negara. Jadi saya menilai Bitcoin itu bukan uang. Ini hanya instrumen keuangan digital layaknya kita memperjualbelikan kontrak sebuah komoditas tertentu. Walaupun Bitcoin tidak merujuk pada harga komoditas tertentu.

Menggunakan bitcoin sebagai alat pembayaran. Ini sama saja kita mempertaruhkan ekonomi kita dalam kondisi yang suram. Disaat terjadi masalah serius, Bitcoin akan membawa kita ke zaman batu.

Penggunaan Uang Digital Akan Buat Tatanan Ekonomi Dunia Berubah

Sejauh ini, China menjadi Negara yang paling maju dalam pengembangan uang digitalnya. Namun dari sudut pandang saya, pengembangan uang digital akan membuat Negara dengan ekonomi besar yang menguasai perdagangan Dunia yang akan menjadi penguasa. Saya berpendapat bagaimana nantinya jika semua negara memiliki uang digital.

Sebagai contoh, saya seorang WNI yang secara kebetulan berada di luar negeri dan bertemu dengan WNI lain. Lantas saya melakukan transaksi keuangan dengan menggunakan Rupiah digital. Padahal transaksi yang sedang terjadi dilakukan di Negara lain. Yang kalau pada saat ini, saya harus menukarkan rupiah yang saya miliki ke mata uang lain, baru bisa saya gunakan bertransaksi di Negara lain.

Baca Juga :  Partai Baru Trump : MAGA, Trumpian atau Patriot Party?

Jika pola transaksi seperti itu bisa dilakukan dengan menggunakan uang digital. Maka bukan tidak mungkin setiap warga Negara di dunia ini akan melakukan transaksi keuangannya dengan mata uang lokalnya di Negara manapun.

Dan bukan tidak mungkin jika dikembangkan sebuah uang digital yang bisa dikonversi ke mata uang lain secara instan. Artinya begini, saat saya menggunakan Rupiah digital, terus mau berbelanja di Negara lain yang menggunakan uang lokalnya. Nah lantas uang digital tersebut bisa mengkonversi langsung ke mata uang lokal di Negara yang dimaksud.

Tetapi mungkin untuk poin yang terakhir saya menilai belum akan terealisasi. Dan mungkin bisa jadi tidak akan dilakukan oleh otoritas keuangan atau Bank Sentral tertentu. Uang digital seperti itu butuh kesepakatan lintas Negara.

Tetapi yang menarik adalah jika saat ini US Dolar menjadi uang yang dominan ditransaksikan di banyak Negara. Maka kehadiran uang digital bisa membuat dominasi US Dolar hilang. Dan bahkan bukan hanya dominasi US Dolar saja, tetapi dominasi mata uang yang tergolong hard currency lainnya. Disinilah letak kemungkinan dimana penggunaan mata uang antar dua Negara secara bilateral akan tercipta.

Bukan dominasi sebuah mata uang yang bersifat universal layaknya US Dolar atau mata uang hard currency lainnya. Dan tatanan ekonomi dunia bisa berubah signifikan dengan kehadiran uang digital tersebut.

*) Gunawan Benyamin, Redaktur Strateginews.co, Pengamat Ekonomi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here