JBM.co.id, Kutai Barat – Agus Hermawan pria muda asal Kampung Ongko Asa, Kecamatan Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Provinsi Kalimantan Timur adalah founder Layung Farm yakni sebuah bisnis yang bergerak dalam bidang pertanian modern.

Menurut Agus Hermawan bisnis pertanian modern merupakan usaha yang tidak tergoyahkan dalam kondisi ekonomi apapun, katanya kepada media ini, Jumat (12/2/2021) melalui pesan whatsapp.

Pria lulusan Universitas Advent Indonesia (UNAI) Bandung Fakultas Ekonomi ini mengatakan bahwa nilai serta peluang bisnis pertanian modern di Indonesia sangat besar, sejalan dengan nilai perdagangan unggas pada tahun 2012 saja bisa mencapai angka 160 triliun. Angka tersebut sudah termasuk pakan, dimana lebih dari 50% pakan merupakan hasil pertanian.

Dia menjelaskan apa yang melatar belakangi usaha yang digelutinya, bahwa di Kabupaten Kutai Barat masih banyak kebutuhan pokok masyarakat yang nilainya bisa mencapai puluhan miliaran rupiah didatangkan dari luar daerah.

Baca Juga :  Kedelai Rakitan Kementan Mulai Dikembangkan di Sulawesi Utara

Sedangkan Kubar sendiri memiliki lahan luas dan subur untuk produksi hasil pertanian seperti, padi, kacang hijau, kedelai, gula tebu. Pertanian seperti sawit, karet, kakao juga sudah cukup bagus menjadi sumber penghasilan masyarakat Kubar.

“Ada baiknya apabila masyarakat Kutai Barat dapat memproduksi sendiri kebutuhan pokok hasil pertanian tersebut, sehingga putaran uang besar berada di Kubar bahkan dapat menciptakan lapangan kerja yang lebih luas.

Memang sangat diakuinya SDM dan kemauan yang kuat sangat dibutuhkan, mengingat selama ini mayoritas masyarakat terbiasa dengan tanaman keras, sehingga untuk pertanian holtikultura dibutuhkan contoh dan bukti nyata seperti yang sekarang ini digagas oleh Layung Farm,” ungkapnya.

Baca Juga :  Kementan Pastikan Ketersediaan Pangan Aman

Lanjutnya menyampaikan, Bahwa sampai saat ini usaha pertanian modern yang dikelolanya belum pernah mendapatkan kucuran bantuan dana maupun peralatan pertanian modern secara resmi dari pemerintah Kabupaten Kutai Barat melalui instansi terkait. Namun saya percaya pemerintah juga pasti mendukung setiap kegiatan warga yang tujuannya memajukan masyarakat Kubar, terangnya.

“Sampai saat Layung Farm belum ada hasil yang signifikan, Karena kami sekitar dua tahun membuka lahan pertanian modern. Namun untuk lahan-lahan yang sudah lebih dahulu dibuka setahun sebelumnya mampu menghasilkan empat kali tanam jagung dalam satu tahun.

Hasil panen terakhir mencapai tiga ton per hektar jagung pipil kering. Hasil ini dirasa kurang maksimal disebabkan jarak tanam yang terlalu renggang, untuk solusinya alat tanam sudah dimodifikasi dan optimis kedepan dapat panen hingga mencapai delapan ton per hektar jagung pipil kering, dengan harga jual Rp.4000/kg,” urainya.

Baca Juga :  Paidi ‘Ruud Gullit’ Bekas Pemulung Satu-satunya Guru Porang di Indonesia

Agus Hermawan pun mengajak kalangan muda, orang tua serta seluruh masyarakat Kutai barat untuk memulai usaha pertanian modern dengan menanam jenis tanaman yang merupakan kebutuhan pokok masyarakat.

Apalagi kondisi saat ini ditengah pandemi covid-19 di penjuru dunia termasuk Indonesia kebutuhan akan ketahanan pangan merupakan ancaman, dengan pertanian modern kita akan mampu mengatasinya.

“Mulai lah membuat kelompok-kelompok tani. Bekerja secara bergotong-royong membuka lahan yang masih luas lalu menanam jenis tanaman yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat hasilnya bisa dinikmati sendiri, bahkan dijual,” pungkasnya. (Red/Jbm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here