Nasib Petani Tebu APTRI Perlu Perhatian Khusus dari Pemerintah

JBM.co.id, Kediri – Petani tebu kembali resah dihadapkan lagi dengan berbagai masalah, kali ini pupuk tidak lagi disubsidi oleh pemerintah. Ini akan berdampak luas terutama kerugian terhadap petani tebu yang 4 bulan lagi akan memasuki masa tebang, mulai giling, dan seterusnya.

Para petani tebu seharusnya saat itu mengalami kesenangan dalam keuntungan, tapi tidak yang terjadi saat ini karena petani bersusah payah melawan dampak lenyapnya subsidi pupuk, belum lagi rendahnya rendemen, meningkatnya biaya produksi, dan turunnya hasil produksi.

Dalam kesempatan ini Sekretaris jenderal DPD Assosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) PTPN X Surabaya, Jawa Timur H. Sudirman, SH mengatakan, petani tebu saat ini merasa bimbang dan galau terhadap hasil panen para petani tebu untuk musim giling 2021, karena beberapa hal diantaranya; harga pupuk melangit, subsidi untuk pangan dikurangi/dicabut oleh pemerintah. Sehingga para petani menggunakan pupuk non subsidi harganya tiga kali lipat dari harga sebelumnya.

Baca Juga :  Layung Farm Gagas Pertanian Modern Di Kutai Barat

Sedangkan sisa gula tani di Jawa Timur yang belum terjual masih ada sekitar 100 ribu ton, kalau pemerintah terus import gula kristal putih maka sangat dimungkinkan stok gula akan melimpah, jumlah gula nasional akan tercukupi walaupun tanpa giling.

”Seharusnya agar para petani tebu tidak terjepit dan tetap bergairah untuk menanam tebu, maka khusus pupuk yang dialokasikan tanaman tebu tidak dicabut. Dan yang lebih mengerikan lagi jika harga pupuk non subsidi tetap berlaku tapi harga eceran tertinggi (HET) gula tidak ada perubahan atau tidak di revisi tetap pada harga @ kg Rp.12.500.- maka cita-cita pemerintah tentang swasembada gula tidak akan tercapai,” ujarnya.

Masih menurut Sudirman, ia menambahkan, selanjutnya para petani tebu sudah malas, dan akan gulung tikar. Saat ini para petani tebu mengalami keresahan, itu karena diprediksi ke depan akan mengalami kerugian besar.

Baca Juga :  Kementan Pastikan Ketersediaan Pangan Aman

”Hal ini disebabkan ada kebijakan Pemerintah dalam pemberlakuan pencabutan subsidi pupuk. Oleh karena itu harga gula bila masih tidak ada perubahan dalam Harga Eceran Tertinggi (HET) itu petani akan mengalami kerugian. Dengan tidak adanya subsidi pupuk dari Pemerintah dalam hal ini Menteri Perdagangan, apa lagi kalau import gula tidak dibatasi, tentu akan terjadi surplus pasokan gula Nasional.” bebernya.

Sudirman mengungkapkan, petani wilayah Kediripun banyak yang mengeluhkan keadaan ini, sudah ongkos produksinya tinggi masih menanggung biaya tambahan subsidi.

”Semestinya pemerintah, lebih memperhatikan para petani dengan mencabut kebijakan pupuk non subsidi menjadi bersubsidi lagi. Kerugian petani pasti akan bertambah tinggi ke para pemilik lahan, tetapi juga petani penyewa lahan. Selain ongkos sewa, petani harus mengeluarkan biaya produksi yang besar dengan hasil tebu berapa ton lagi belum tahu lagi,” tuturnya.

Baca Juga :  Subak Mundeh Bermasalah Dengan Bantuan Klaim AUTP

Sebenarnya Jawa Timur merupakan penghasil tebu terbesar dalam memproduksi gula, saat ini petani tebu banyak yang resah menanti harapan yang selama ini jadi tumpuan keuntungan yang besar, tapi harapan akan menjadi pupus ketika nanti ongkos produksi membengkak, harga jual tidak ada peningkatan, apalagi pemerintah terus mengimpor gula menjadikan kelebihan gula, karena stocknya sudah terpenuhi. Maka jika terus terjadi, petani tebu akan semakin menderita.

Saat ini saja sudah terasa, stok gula belum terserap semua. Para petani juga butuh kehidupan, yang pada akhirnya mereka jual selakunya meski rugi. (Red/Jbm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here