JBM.co.id, Jakarta – Pihak kepolisian menyoroti banyaknya berita bohong atau hoax terkait Covid-19 di tengah-tengah masyarakat. Sepanjang tahun 2020, polisi mencatat bahwa ada 352 kasus berita bohong terkait Covid-19 yang telah ditangani polisi.

“Data di tahun 2020 untuk berita hoaxs ada 352 kasus yang kita tangani,” terang Kadiv Humas Polri Irjen Pol. Raden Prabowo Argo Yuwono, S.I.K., M.Si., di Jakarta, Sabtu (6/2/2021).

Sebelumnya, Kadiv Humas memastikan pesan berantai alias broadcast message berisikan informasi DKI Jakarta akan Lockdown total pada tanggal 12 hingga 15 Februari 2021 Hoax atau palsu. Adapun pesan berantai tersebut, berisikan informasi Lockdown atau penutupan total Ibu Kota telah diputuskan Presiden RI, Ir. Joko Widodo.

Baca Juga :  Artis Sinetron "Bawang Putih Berkulit Merah" Terpukau Akan Indahnya Pesona Air Terjun Bedegung

Pesan tersebut juga mengimbau masyarakat menyediakan bahan makanan selama Lockdown. Dan berisi informasi bila kepolisian akan menangkap langsung dan melakukan Swab, kepada yang diketahui berada di luar rumah.

“Memang kontennya biasa saja, tapi isinya bisa bersifat menghasut membuat fitnah, dan kemudian Hoax itu akan menyasar emosi masyarakat dan kemudian menimbulkan opini negatif yang mengakibatkan kegaduhan di masyarakat dan disintegrasi bangsa,” jelas Kadiv Humas.

Baca Juga :  TERPILIH JADI SATGAS PAMTAS RI-TIMOR LESTE TERBAIK, YONIF 741/GN DAPAT PENGHARGAAN DARI MABES AD

Kadiv Humas mengingatkan, tindak pidana menanti para pelaku penyebaran Hoax mulai dari pasal 28 Ayat 1 UU 11/2008 tentang ITE tentang penyebaran berita bohong di media elektronik termasuk medsos. Juga pasal 14 ayat 1 dan 2 serta Pasal 15 UU 1/1946 tentang Peraturan Hukum Pidana. Dalam pasal 14 ayat 1 disebutkan pelaku penyebar Hoax diancam 10 tahun penjara.

Baca Juga :  Dr. Emrus Sihombing ; Pemberlakuan PSBB "Rem Darurat" Harus Tetap Terukur

Sementara untuk Ayat 2 tiga tahun penjara, serta Pasal 15 diancam dua tahun kurungan. Argo mengimbau masyarakat mendahulukan kebenaran sebuah berita. Terutama, yang banyak tersebar di medsos.

“Kepada masyarakat semua untuk selalu ada cek and ricek berkaitan dengan informasi broadcast atau media sosial lain,” terang Kadiv Humas. (Red/Jbm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here