GSB Jadi Tersangka Dugaan Pencemaran Nama Baik di Kubutambahan

3 min read
Spread the love

JBM.co.id, Singaraja – Gede Sudjana Budhiasa (GSB) ditetapkan tersangka Satuan Reserse dan Kriminal (Reskrim) Polres Buleleng dalam perkara dugaan Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik terhadap Jro Pasek Warkadea selaku Bendesa Adat Kubutambahan.

Kedepan, Sudjana merupakan seorang dosen di salah satu peguruan tinggi di Bali dan juga Wakil Komponen Desa Adat dan Desa Linggih Kubutambahan itu, akan dipanggil oleh pihak penyidik pada Kamis (21/1) nanti, untuk dimintai keterangannya sebagai tersangka.

Seizin Kapolres Buleleng, Kasubbag Humas Polres Buleleng, Iptu Gede Sumarjaya mengatakan, penetapan Sujana Budi sebagai tersangka ini, setelah proses gelar perkara, atas laporan dari Bendesa Adat Kubutambahan, Jero Pasek Warkadea dengan No. LP/141/XI/2020/BALI/RES BLL, tertanggal 24 November 2020 lalu.

Menurutnya, sejauh ini Sudjana Budi cukup kooperatif dalam memberikan keterangan saat dipanggil pihak kepolisian.

“Tanggal 21 Januari ini rencana akan dipanggil, bersangkutan (Sudjana) dijerat Pasal 310 KUHP. Dari hasil gelar perkara, ada unsur tindak pidana dalam kasus itu,” ungkapnya.

Baca Juga :  Terkait 3 Oknum Kades OTT Beberapa Waktu Lalu, Kejaksaan Kampar Kembalikan Berkas

Sementara, Sudjana Budi mengaku, sudah mengetahui jika dirinya ditetapkan sebagai tersangka.

“Ya, sudah (ditetapkan tersangka). Ya, proses hukum namanya. Silahkan saja. Jadi tersangka, kan belum tentu bersalah. Indonesia negara hukum, Sebagai warga yang baik harus taat hukum. Saya siap ikuti,”  ujar Sudjana

Sudjana pun mengakui, jika dirinya yang membuat sejumlah spanduk yang kemudian dipasang di areal parkir Pura Maduwe Karang di Kubutambahan pada November lalu. Hanya saja, Sudjana mengaku, tidak ada urusan dengan Jro Pasek Warkadea selaku Bendesa Adat Kubutambahan.

Sudjana berkilah, tulisan JP yang ada pada spanduk itu tidak menyebutkan nama Warkadea (Jro Pasek Warkadea). Bahkan, Sudjana Budi pun telah menunjuk kuasa hukum untuk mendampinginya dalam menghadapi persoalan hukum ini.

“Disitu (spanduk) menyebutkan JP. Jadi saya tidak ada mencemarkan nama baik Warkadea. Saya hanya mengatakan JP. Maksud saya JP itu Jajaran Pimpinan. Nanti di pengadilan yang akan menentukan,” pungkasnya.

Baca Juga :  Korban Kedzaliman Bupati, BPI Dan Eks DPRD Puncak Jaya Kawal Pemberhentian 125 Kepala Kampung

Sekedar mengingatkan, kasus dugaan pencemaran nama baik ini bermula dari adanya rencana pembangunan Bandara Bali Utara yang awalnya bakal dibangun diatas tanah duwen pura milik Desa Kubutambahan. Tanah adat di Kubutambahan itu kemudian berpolemik, antara tokoh adat di Kubutambahan.

Puncaknya muncul sejumlah baliho yang berisi tudingan terhadap oknum tokoh desa adat yang diduga melakukan tindakan penggelapan uang sewa lahan calon bandara tersebut. Bahkan pada Minggu 11 Oktober 2020 lalu, tercatat ada 5 baliho terpasang di wilayah Dusun Kubu Anyar, Desa/Kecamatan Kubutambahan.

Dari 5 baliho itu, 4 buah terpasang di areal Parkir Pura Madue Karang dan 1 baliho terpasang di depan wantilan Dusun Kubu Anyar. Masing-masing baliho bertuliskan ‘JP Menyetor 2,4 Miliar kepada Kas Desa, 1,6 Miliar Digelapkan untuk Kepentingan Pribadi’. Baliho lain juga bertuliskan ‘Penghulu Desa Adat Telah Berbohong Kepada Warga Masyarakat Adat Kubutambahan’.

Baca Juga :  TERBUKTI SELINGKUHI ISTRI TETANGGA, KETUA LPD PANGKUNGPARUK DICOPOT

Selain itu ada Baliho bertuliskan ‘Tanah Duwen Pura Telah Dikontrak Tanpa Batas Waktu’. Di sudut lain ditemukan tudingan bertuliskan ‘Tanah Duwen Pura Sudah Disertifikatkan 16 Hektar Atas Nama Pribadi’. Dan tulisan yang paling mencolok adalah ‘JP Telah Memberi Hadiah Hutang Sebesar Rp 1,4 Triliun Kepada Ida Batara Ratu Pingit’.

Pemasangan baliho itu membuat Bendesa Adat, Jro Pasek Warkadea bereaksi karena merasa disudutkan dan dituduh melakukan penggelapan uang, Warkadea pun akhirnya melaporkan Dr. Sujana Budiasa ke Polres Buleleng atas tuduhan dugaan pencemaran nama baik.

Sebelumnya Jro Warkadea sempat menegaskan, pemasangan baliho itu telah membunuh karakternya. Kendati hanya menyebutkan inisial JP, namun dalam baliho itu telah menyebut penghulu desa, sehingga ia memutuskan untuk melaporkan dugaan pencemaran nama baik itu ke Polres Buleleng. (Red/Jbm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | W2B by JBM.CO.ID.