PALEMBANG, WWW.JBM.CO.ID- Forum Komunikasi Mahasiswa Teknik Sipil Indonesia (FKMTSI), mendorong dan mengajak pemerintah Kota Palembang untuk berkerja sama guna mengurangi banjir di Kota Palembang yang sampai saat ini masih sering terjadi.

Di deklarasikan di bandung pada tanggal 24 Desember 1987, FKMTSI adalah organisasi kemahasiswaan teknik sipil atau organisasi kemahasiswaan program studi teknik sipil yang diakui oleh masing-masing perguruan tinggi, yang terbagi beberapa wilayah.

Palembang tergabung di wilayah 4 bersama Bengkulu dan Bangka Belitung,terdapat 8 instansi yang ada di Kota Palembang tergabung di dalam FKMTSI (Universitas Sriwijaya, Universitas Tridinanti Palembang, Universitas Muhammadiyah Palembang, Universitas Bina Dharma, Universitas PGRI Palembang, Universitas IBA, Universitas Indo Global Mandiri dan Politeknik Sriwijaya).

Baca Juga :  Wabah Covid-19, 104 Kabupaten dan Kota Masuk Daftar Zona Hijau

Bukan tanpa alasan FKMTSI mengajak pemerintah untuk bekerja sama menangani banjir di Kota Palembang, pada saat menghadiri workshop yang diadakan pada tanggal 7 Desember 2020 oleh Cermin Kota yang dihadiri oleh Pemerintah Kota Palembang beserta Dinas terkait, DPRD Kota Palembang, dan aktivis lingkungan yang ada di Kota Palembang dengan tema “Titik Balik Tata Kelola Sampah dan Banjir Di Kota Palembang”.

Menindak lanjuti dari hasil workshop tersebut, maka kami dari 8 instansi ini melakukan kajian bersama untuk memecahkan masalah apa saja yang mengakibatkan banjir ini, dan salah satu yang kami soroti dari permasalahan tersebut bisa kami simpulkan bahwa terjadinya banjir/genangan air di Kota Palembang juga di sebabkan oleh kurangnya RTH (Ruang Terbuka Hijau) di mana minimalnya yaitu 30 persen dan intensitas curah hujan yang tinggi.

Baca Juga :  Diperiksa KPK Selama 7 Jam, Eks Menag Lukman Hakim Irit Bicara

Menurut  Febi Agustin selaku Korwil FKMTSI wilayah 4 mengatakan bahwa untuk menyeimbangkan RTH yang ada di Kota Palembang, kami dapat menggalangkan di buatnya Bio Pori sehingga penyerapan air tidak hanya tertuju pada Lahan Terbuka Hijau, dan misal pada rumah tinggal yang RTH di bawah 30 persen maka dapat dibuat sumur resapan untuk penyerapan air, untuk GSB (Garis Sempadan Bangunan) luas satu bahu jalan itu sudah cukup dan melihat kondisi kelas jalan, apabila halaman rumah ingin di cor harus di sertakan sumur resapan untuk tiap-tiap rumah, sehingga air itu masuk ke sumur resapan. (Red/Tim/Jbm)

Baca Juga :  UPDATE PENANGGULANGAN COVID-19 BALI, SELASA 21 JULI 2020

Sumber : Rilis FKMTSI Palembang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here