Putu Ivan Yunatana : Kita Harus Bijak dan Konsisten Menangani Persoalan Sampah

3 min read
Spread the love

WWW.JBM.CO.ID-
Pengelolaan sampah, masih menjadi persoalan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Bukan hanya material sampahnya yang menjadi masalah, akan tetapi juga pembuangan, pengelolaan, dan pengolahan sampah. Untuk itu, diperlukan langkah-langkah yang tepat untuk mengelola sampah.

Untuk mengatasi persoalan sampah ini, Gubernur Bali, Wayan Koster, telah menandatangani Peraturan Gubernur Nomor 47 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber.

Peraturan Gubernur ini, bertujuan untuk mempercepat upaya melindungi dan memperbaiki alam lingkungan Bali beserta segala isinya di bidang pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga.

Guna menyikapi persoalan sampah, khususnya di Pulau Dewata, executive Direktur JBM Nyoman Sarjana berbincang dengan pemerhati lingkungan Putu Ivan Yunatana. Berikut petikannya.

Jbm.co.id

Pak Ivan, persoalan sampah ini, menjadi fokus kita semua. Dan kami melihat, Bapak sangat concern terhadap persoalan sampah, khususnya di Bali. Berfikir bagaimana mengelola sampah menjadi sampah yang ramah lingkungan. Apa yang memotivasi Bapak bergerak di bidang lingkungan, terutama masalah sampah.

Baca Juga :  Darlian Pone Edukasi Masyarakat Lampung Utara Melalui Sosperda No.1 Tahun 2019

Putu IvanYunatana

Selama ini orang menganggap sampah menjadi obyek yang tidak bernilai. Padahal sampah ini kalau kita kelola, kita sikapi dengan bijak, memiliki nilai ekonomi. Tinggal bagaimana kita menangani dan menyikapinya dengan benar.

Nah, masalahnya kan karena banyak pihak yang belum paham bagaimana menangani sampah dengan baik dan benar. Kalau kita memprosesnya itu atau mengolahnya terutama sampah non organik, semisal plastik mulai dari kresek, dari botol air mineral ataupun sterofoam yang dilarang oleh pemerintah. Sebenarnya kalau kita ini bisa mengolahnya dengan cara yang baik, ada nilai ekonominya.

Disamping itu, kenapa saya tergerak bagaimana mengelola sampah di Bali ini, memiliki filosofi yang namanya Tri Hita Karana, yang mana hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, Tuhan dengan alamnya. Nah, ini sangat memprihatinkan.

Namun dalam keseharian yang kita lihat, sampah tidak tertangani dengan baik, bahkan mencemari lingkungan. Artinya, kalau kita yang nilai kan bertolak belakang. Artinya, satu sisi apa yang kita lakukan kan berdampak pada pencemaran lingkungan. Berarti kan tidak sinkron ini, dan juga kegiatan-kegiatan kita di Bali di upacara-upacara kan abunya sampah. Upacara-upacara di pure-pure misalnya, nah dari sampahnya dimana ditanganinya.

Baca Juga :  DISURUH LIBUR DUA HARI, “PASUKAN HIJAU” DEMO KE DPRD BULELENG

Bedanya kita dengan yang lain, selesai upacara banyak yang berjualan di sekitar pura, nah, itu sampah-sampah plastik tidak mudah terurai, dan baru bisa terurai setelah melewati masa 100 tahun.

Ini yang harus menjadi perhatian kita. Di satu sisi kita bicara tentang proses Tri Hita Karana, berarti antara faktanya dengan intinya tidak sesuai, tidak sinkron. Ini yang sangat membahayakan.

Kami dari Apsi (Asosiasi Pengusaha Sampah Indonesia), berproses mengedukasi, bagaimana mengelola sampah memiliki nilai ekonomi. Sampah organik diolah menjadi pupuk organik kemudian bisa disalurkan. Sementara yang non organik kita bisa daur ulang.

Jbm.co.id

Dalam situasi apapun, termasuk pandemi, sampah masih tetap ada. Nah masalahnya yang terjadi saat ini, kenapa TPA-TPA yang ada sampai tidak mampu, karena permasalahannya perilaku di masyarakat, bagaimana Bapak melihat persoalan ini ?

Baca Juga :  10.000 Sukarelawan COVID – 19 Dapat Dukungan Asuransi Bank Danamon

Putu Ivan Yunatana

Dari mereka sekarang menghasilkan sampah, diangkut dibuang ke TPA bukan menyelesaikan masalah, tapi hanya memindahkan masalah. Ini kita mendorong pemerintah juga dan ini sudah ada Perda nomor 47 Tahun 2016, dimana Pak Gubernur sudah melakukan Pergub mendorong melakukan disens adat, nah sekarang yang tidak mengolah sampah akan ada peraturan adat yang akan menyertainya.

Kalau sampai itu sampai terpilah sesuai jenisnya, itu bisa dijual pak. Kita bisa beli, kita bisa olah lagi menjadi barang jadi. Selama ini sampah-sampah yang di Bali dikirim ke Jawa balik ke Bali dalam bentuk barang jadi. Nah ini kan sayang sekali, kenapa kita tidak mengalihkan teknologi dalam. (Red/Tim/Jbm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | W2B by JBM.CO.ID.