Wagub Bali Buka Seminar Kesenian Berbasis Kearifan Lokal

2 min read

Foto Humas Pemprov Bali: Wagub buka seminar, Jumat (6/11/2020)

Spread the love

Denpasar, JBM.co.id – Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan (Listibya) Provinsi Bali, menggelar acara seminar bertajuk “Kesenian Berbasis Kearifan Lokal Menuju Pemajuan Kebudayaan Bali di Era New Normal”, bertempat di Ball Room Four Star by Trans-Denpasar, Jumat (6/11/2020).

Acara seminar itu dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, dan sekaligus menjadi keynote speaker pada seminar tersebut.

Pada kesempatan tersebut, Wagub Cok Ace menyampaikan beberapa poin penting, antara lain memberikan apresiasi atas diselenggarakannya acara tersebut meski di tengah situasi pandemi, namun Wagub Cok ace melihat acara yang diselenggarakan di hotel tersebut telah menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

“Berharap ke depan acara-acara akan mulai diggelar secara langsung tentunya dengan protokol yang ketat sehingga kembali mampu menggerakan perekonomian hotel di Bali,” jelasnya.

Baca Juga :  KPK Tangkap Edhy Prabowo Atas Dugaan Korupsi Ekspor Lobster Benur

Terkait dengan tema yang diangkat, Wagub Cok Ace mengatakan bahwa jauh sebelum covid-19, harus disadari bahwa ada beberapa persoalan penting yang perlu diselesaikan yaitu terkait keseimbangan antar sektor, wilayah dan keseimbangan antara sekala dan niskala. Untuk itu, kata dia, Pemprov Bali masa kepemimpinan Gubernur Koster dan Wagub Cok Ace telah menerapkan visi dan misi Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang mana Menjaga Kesucian dan Keharmonisan Alam Bali Beserta Isinya untuk mewujudkan kehidupan krama bali yang sejahtera dan bahagia sekala dan niskala. “Maka dengan visi tersebut pengembangan pariwisata Bali adalah pariwisata yang berkelanjutan,” tegas Cok Ace lagi.

Baca Juga :  VIRUS CORONA: TAMBAH 2 PASIEN SEMBUH, TINGKAT KESEMBUHAN DI BULELENG CAPAI 90%

Lebih lanjut, Wagub Cok Ace memaparkan bahwa terdapat dua hal penting yang ada dalam pariwisata berkelanjutan. Pertama, pembangunan termasuk komponen pariwisatanya harus mempunya manfaat kesejahteraan bagi masyarakat Bali, tidak hanya dari persoektif penghasilan saja namun juga dari segi kesehatan, pendidikan dan happiness atau kebahagiaan. Kedua, Pembangunan termasuk komponen parowosata didalamnha tidak boleh merusak apalagi mematikan sumberdaya pulau Bali yaitu keyakinan dan kepercayaan masuarakat hindu Bali.

“Jangan sampai gara-gara pembangunan pariwisata dapat merusak sumber daya manusia dan sumber daya alam bali,” paparnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Acara I Nyoman Astita menyampaikan, seminar tersebut bertujuan menciptakan ruang dialog dalam perspektif kebudayaan secara holistik, cerdas dan konstruktif untuk mendiskusikan potensi kearifan lokal dalam sinergi UU Pemajuan Kebudayaan secara lintas bidang, lintas disiplin dan lintas budaya. Membahas penguatan potensi modal budaya dan kesenian bagi pengembangan ekonomi kreatif. Mengindentifikask berbagai peluang pemberdayaan potensi seni budsya di era new normal dalam sekala lokal, nasional dan internasional.

Baca Juga :  DEMO UU CIPTAKER: AMBULANCE DIPAKAI PERUSUH ANGKUT BATU

Sejumlah narasumber dihadirkan dalam seminar itu yaitu I Wayan Adnyana dengan materi “Pemajuan dan Penguatan Kebudayaan Abli dalam Dinamika Lokal, Nasional dan Global”; I Gede Arya Sugiartha dengan materi “Deseiminasi SKB Penguatan dan Perlindungan Tari Sakral Bali”; serta Ngakan Ketut Acwin Dwijendra dengan matteri “Meningkatkan Peran Masyarakat dalam Pelestarian Warisan Budaya Bali”. (frs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | W2B by JBM.CO.ID.