INI CERITA KENAPA KITA HARUS TETAP DUKUNG JOKOWI

6 min read
Spread the love

WWW.JBM.CO.ID,
Empat setengah miliar tahun sudah bumi kita berputar. Bukan faktor kebetulan belaka bila bumi yang berputar dengan kecepatan 1600 km/jam itu membuat segala mineral bumi yang sangat berguna bagi umat manusia terkonsentrasi di sepanjang garis katulistiwa. Fisika dapat menjelaskan hal itu dengan gamblang.

Secara kebetulan, kita, Indonesia terletak di daerah kaya tersebut. Secara kebetulan pula rakyat yang terdiri dari ratusan suku itu tinggal di bumi kaya tersebut.

Namun bukan kebetulan bila Belanda dengan VOC nya “kulakan” hasil bumi dari sana. Bukan kebetulan pula bila mereka yang awalnya adalah berdagang namun di kemudian hari ingin menguasainya. Ada rencana terstruktur.

Bukan sebuah kebetulan bila pada 28 Oktober 1928 kesadaran pemuda menghasilkan kesepakatan bersama tentang makna Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa yang membuat arah jelas tentang makna merdeka pada 17 Agustus 1945. Ada proses panjang atas sebuah kesadaran pentingnya persatuan.

“Apakah kebetulan bila negara ini seolah tak beranjak dari kondisi yang selalu rapuh dengan perpecahan?”

Sama dengan setiap orang merdeka dapat menentukan kemana seharusnya dia melangkah, demikianlah negara.

Pilihan ingin menjadi dokter atau petani bukan wilayah orang lain membuat keputusan. Itu wilayah bebas kita sebagai pribadi. Namun terkadang apa itu baik dan buruk seringkali menjadi wilayah terbuka bagi intervensi orang lain, orang tua, tante bahkan kakak dan tetangga kita.

Demikian pula Indonesia sebagai negara merdeka memiliki pilihan bebas ketika ingin menentukan pilihan, namun ketika baik dan buruk adalah apa yang akan disematkan, intervensi asing datang tak pernah ada kata berhenti.

Ada banyak kepentingan dan paham yang akan disuntikkan asing tentang kemana jalan baik harus kita tuju.

“Tujupuluh lima tahun sudah kita merdeka, benarkah semua itu kita alami?”

Terlalu naif menilai setengah jalan Jokowi sudah sukses. Mengembalikan arah harus ditempuh kemana sebenarnya bahtera bernama Indonesia ini berlayar, tentu bukan tentang sekedar cerita sukses atas selesainya membangun jalan dan infrastruktur.

Sebagai presiden “gila kerja” dan ribuan kilometer jalan sebagai bukti dia berbeda dengan banyak Presiden sebelumnya, tak diragukan itu benar adanya.

Namun menjadikan itu sebagai bukti dan ukuran kesuksesannya memimpin negeri terbesar di Asia tenggara ini, sepertinya terlalu dini.

Mengembalikan Indonesia pada rel awal dimana cita-cita besar para bapa pendiri bangsa pernah menjadi arah, kini sedang dikerjakannya.

Baca Juga :  SAMBUT NYEPI: DESA ADAT BUSUNGBIU GELAR MELASTI TANPA PRATIMA

Mencari kembali dan menentukan kiblat ke mana Indonesia harus melangkah, adalah target dikejar demi Indonesia jaya seperti cita-cita kita seharusnya.

“Loh…sejak kapan kita salah arah?”

Paling tidak, keberihakan kita pada salah satu kelompok pernah terpaksa harus kita alami. Bukan soal suka atau tidak, disana jati diri kita sebagai bangsa bebas hilang.

Perang dunia ke dua berakhir dengan melahirkan masalah baru, terciptanya blok barat dan blok timur. Barat dipimpin AS dan timur oleh Rusia.

Indonesia sebagai bayi yang baru lahir seolah tak diberi pilihan lain selain kedua jalan yang ada tersebut. Baik barat dan timur menawarkan gagasan terbaiknya agar kita memilih. Keduanya berebut kemana ingin mengajak Indonesia melangkah.

Berpihak bagus, tak berpihak akan ada banyak cara pemaksaan dari kedua kelompok itu.

Pemberontakan dengan dalih agama dan jejak komunis yang terjadi sejak kita merdeka, sepertinya juga bukan murni tentang apa keinginan sebagian dari rakyat kita memberontak. Baik barat dan timur selalu berada dibalik semua itu. Ada aroma dan jejak nyata tertinggal dan mereka saling memberi pengaruh kemana Indonesia harus melangkah.

Bukan ke kanan atau ke kiri Soekarno sebagai Presiden pertama ingin Indonesia melangkah, non blok sebagai sikap tak berpihak pada keduanya justru digaungkan. Indonesia melalui Soekarno mengambil sikap tegas bahwa kita bangsa besar, bangsa yang memliki harga diri dan tahu kemana harus berjalan.

Tahun 1955 KTT Asia Afrika digelar di Bandung dimana 29 negara hadir. Bersama Jozip Broz Tito dari Yugoslavia, Soekarno, Nehru India, Nasser dari Mesir dan Kwame Nkrumah dari Gana tercatat sebagai para pendirinya.

Tahun 1961 pertemuan pertama Gerakan Non Blok diadakan di Beograd Yugoslatvia. Bukti bahwa Indonesia tahu kemana harus memilih. Bukti bahwa DNA Indonesia adalah tentang menjadi pemimpin telah tercatat sejak dulu. Kita bangsa besar dan sadar akan kebesaran kita.

Namun sayang, Soekarno ternyata harus tumbang. Beliau kalah oleh kepentingan barat yang meminjam tangan Soeharto. Sejak saat itu, kemana kiblat kita mengarah, tak perlu lagi menjadi pertanyaan.

Bak seekor lembu yang diikat hidungnya, kemana kita melangkah selalu tentang kemana barat dan kapitalis menarik talinya. Kita bergerak seperti yang mereka mau. Kita adalah aset bagi kepentingan mereka.

Untuk sesaat kita aman. Tak ada lagi pemberontakan terdengar. Tak ada lagi saling caci dan pukul di antara kita. Kita masuk dalam fase panjang Repelita yakni cerita tentang pembangunan berkelanjutan.

Baca Juga :  KABAR PERBATASAN RI-TIMOR LESTE: SATGAS YONIF 132/BS BAGI-BAGI AYAM POTONG KEPADA WARGA PERBATASAN

“Benarkah?”

Siapa tak takut dituduh PKI? Pembantaian rakyat dengan dalih pemberontakan PKI telah meninggalkan trauma sangat besar dan rasa takut kepada rezim Soeharto yang selalu menunjukkan senjata terisi ketika berhadapan dengan rakyat.

Situasi aman tanpa gejolak pada satu sisi adalah wajah yang kita tampakkan. Di sisi lain, takut kepada Soeharto adalah jawaban setiap orang ketika kejujuran berbicara.

Kemerdekaan berbicara hilang, kemerdekaan berkumpul dibatasi dan kita hanya harus sepakat tanpa membantah ketika seluruh kekayaan alam negeri ini di angkut keluar. Kita kembali dijajah dengan pola yang sama namun oleh wajah baru.

Tertatih tatih kita berjalan selama 20 tahun lebih sejak kita merdeka, dan hanya untuk kembali jatuh pada lobang yang sama. Kapitalis Belanda diganti dengan barat demi SDA melimpah kita.

Dulu tentara dan polisi digaji Belanda untuk mengintimidasi rakyat demi SDA melimpah kita, jaman Soeharto, saudara kita sendiri memukul kita demi panen para kapitalsi di barat sana.

Reformasi meruntuhkan Soeharto dan namun hanya berusia 6 tahun. Itupun tak sempat sedikitpun menghasilkan langkah jelas kemana kita harus melangkah.

Enam tahun dengan 3 presiden kembali tumbang bahkan sebelum sempat berbicara banyak.

Blok timur benar telah runtuh dengan tumbangnya Uni Soviet tahun 90, namun hegemoni barat justru semakin menguat dan makin masif. Kita masih menjadi lahan bagi dimana SDA adalah darah segar mereka yang rakus dan tamak.

Arah langkah pllitik kita kembali pada kebijakan tak terlalu berbeda dengan Soeharto. SBY lebih nyaman membangun dan mengarahkan kemudi negara ini dan memilih berdamai dengan semua pihak.

Meski politik bebas aktif selalu kita bicarakan, berpihak kepada kepentingan asing dan terutama barat, bukan cerita asing kita dengar. Kita masih didikte atas kemana SDA harus kita diberikan. Didikte dengan banyak ancaman embargo ketika kita tak mau “nurut”.

Kini, 6 tahun Jokowi memerintah, usaha untuk berpijak pada kaki sendiri sangat tampak ingin dia pilih. Menjauh dari pengaruh dan tekanan barat dengan mengambil kembali milik berharga kita yang telah puluhan tahun dipinjamkannya adalah bukti tak terbantahkan.

Menentukan kemana langkah akan dituju tanpa berpihak pada salah satu kelompok seperti pernah Soekarno lakukan kini menjadi pilihannya.

Baca Juga :  Dihadapan Gubernur se-Indonesia, KPK Perkuat Sinergi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi di Daerah

Seharusnya, dengan mudah ingatan kita tertuju pada satu titik. Bukankah asing pernah memanfaatkan Soeharto demi menjatuhkan Soekarno? Kenapa asing yang sama tak lagi menggunakan cara yang sama pula kepada Jokowi?

Riuh politik kita hari ini adalah bukti. Ada hal asing menyusup dan kemudian melukai kebersamaan kita. Saling maki dan semakin meruncing pada rasa ingin saling memukul sudah kita rasakan.

Tak cukupkah kita puas telah membunuh jutaan saudara kita sendiri di tahun 65 hanya demi sesuatu yang hanya menguntungkan pihak asing? Bukan saling maki seharusnya kita berbicara kepada sesama anak bangsa, saling menyapa dan memberi semangat apalagi di masa pandemi ini, tentu akan jauh lebih berguna.

Ini bukan tentang Jokowi dan maka kebencian karena rasa tak suka kepadanya menggelora, ini tentang Presiden sebagai kepala pemerintahan yang seharusnya kita dukung.

Presiden hanya menjalankan apa yang seharusnya dia jalankan. Demikian konstitusi telah memerintahkannya. Dia memang harus membuat Indonesia berdiri pada kakinya sendiri dan kemudian berjalan pada arah benar kemana harus menuju.

Infrastruktur benar telah membuat kita melaju dengan cepat, namun menjauh dari tekanan mereka yang sangat kuat dan kemarin merasa telah kita rugikan, akan menjadi jalan terjal yang bahkan jauh lebih berat dibanding dengan membangun infrastruktur sedang menantinya.

Bukan intervensi langsung menjadi beban berat itu, memukul dan menghukum rakyatnya sendiri yang terpengaruh bujukan asing adalah apa yang tak pernah ingin dia lakukan.

Bukan tentang dia takut akan jatuh dan bernasib seperti Soekarno, dia hanya tak ingin Indonesia jatuh lagi menjadi budak asing demi kutukan SDA melimpah kita.

“Loh koq kutukan?”

Kekayaan adalah kutukan bagi mereka yang bodoh.

Akan masih tetap bodohkah kita sehingga kekayaan kita justru adalah yang akan membuat kita runtuh? Seharusnya tidak. Namun bila sekali lagi ini harus terjadi, sudah selayaknya Presiden tak lagi diam dan mengalah.

Soekarno pernah mengalah demi menghindari keributan yang lebih besar, namun apa yang beliau dapat? Jutaan nyawa saudara kita justru tewas dan negara kembali jatuh.

Presiden Jokowi sangat pintar, dia tak akan membiarkan dirinya jatuh pada lobang yang sama bila taruhannya adalah kemandirian dan kemerdekaan bangsa besar ini. (Red/AJ)

Penulis : Boy A

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *