Dirut PT. BPRS Lampung Timur Lakukan Pembahasan intern, Usai Dilaporkan LSM KAMPUD Ke Kejati Lampung Terkait Dugaan Korupsi

3 min read
Spread the love

LAMPUNG, JBM.co.id-Direktur Utama (Dirut) PT. Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Lampung Timur, Tony Adryansyah, S.P, belum memberikan keterangan kepada awak media terkait sejumlah dugaan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) dalam pengelolaan di PT. BPRS Lamtim (BUMD).

Saat awak media melakukan konfirmasi kepada Dirut PT. BPRS Lamtim, Tony Adryansyah menjawab pihaknya akan mempelajari terlebih dahulu.

“Kami bahas di intern terlebih dahulu”, kata Tony, Jum’at (16/10/2020).

Sebelumnya, LSM KAMPUD Provinsi Lampung mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyampaikan laporan pengaduan kepada Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung terkait sejumlah temuan dan kajian yakni, dugaan upaya praktik KKN terhadap pengelolaan PT. BPRS Lamtim dengan potensi merugikan PAD Pemkab Lamtim, sejak Tahun buku 2017, 2018 dan 2019.

“Dengan diundangkannya Permendagri Nomor 94 Tahun 2017 Tentang BPR milik Daerah, seharusnya menjadi acuan pihak PT. BPRS Lamtim dalam menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), namun kenyataannya PT. BPRS Lamtim melakukan RUPS mengacu kepada peraturan yang sudah tidak berlaku lagi, tentunya keputusan RUPS tersebut berpotensi merugikan keuangan Negara dalam sektor Pendapatan Asli Daerah (PAD), ungkap Seno, (11/10/2020).

Baca Juga :  VIRUS CORONA: LAGI 3 PASIEN COVID-19 DI BULELENG SEMBUH

Lebih jauh LSM KAMPUD Provinsi Lampung mensinyalir ada unsur kesengajaan dalam menetapkan acuan peraturan yang sudah dicabut atau tidak berlaku sebagai dasar pedoman pengambilan keputusan RUPS PT. BPRS Lamtim bersama Pemkab Lamtim.

“Seharusnya dasar RUPS PT. BPRS Lamtim bersama Pemkab Lamtim pada tahun Buku 2017, 2018, dan 2019 mengacu kepada Permendagri Nomor 94 Tahun 2017, bukan Peraturan yang sudah dicabut, kemudian setelah mengacu baru mereka (Direksi PT. BPRS Lamtim-red) melakukan penyesuaian terhadap peraturan tersebut, sekarang bagaimana Direksi mau menjalankan roda Perusahaan dnegan baik, dan menyesuaikan sesuai aturan hukum, jika dasar acuan mereka saja mengacu kepada aturan yang sudah tidak berlaku, jelas ini bertentangan”, tandas Seno.

Baca Juga :  Blusukan Ketengah Pasar, Agar Lebih Dekat Dengan Masyarakat

“Kami sudah melaporkan persoalan ini kepada aparat penegak hukum yaitu Kejaksaan Tinggi Lampung sebab kami menafsir Pemkab Lamtim dari sektor PAD dirugikan sebesar Rp. 1,4 Miliyar, selain itu dampaknya tidak dilaksanakannya CSR sebagai tanggungjawab sosial PT. BPRS Lamtim yang dihitung sebesar 3% dari laba setiap tahunnya”, kata Seno.

Masih lanjut Seno, “kemudian Laporan juga kami, tembuskan kepada lembaga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) sebab ada rangkap jabatan oleh Komisaris utama yang juga menjabat sebagai kepala Dinas di lingkungan Pemkab Lamtim, sehingga tidak sesuai dengan Perda Nomor 07 Tahun 2016 Tentang Pembentukan BPRS Lamtim”, imbuh Seno.

Selain mempersoalkan dasar pengelolaan PT. BPRS Lamtim yang mengacu pada peraturan yang sudah tidak berlaku, LSM KAMPUD juga menyoroti adanya pengurangan atau pemotongan jasa produksi yang seharusnya sebesar 8% dan dana kesejahteraan 10% dari laba kepada seluruh pegawai PT. BPRS Lampung Timur, disinyalir dilakukan pihak direksi Perusahaan BUMD tersebut.

Baca Juga :  AKHIRI TUGAS DI BALI, MAYJEN BENNY PAMITAN KE GUBERNUR KOSTER

“Pemberian penghasilan dan fasilitas berupa honorarium dan gaji pegawai terindikasi telah terjadi pengurangan, hal ini bertentangan dengan ketentuan yang berlaku yaitu, Permeendagri 94 Tahun 2017″, tegas Seno.

Selain itu, pada jabatan dewan komisaris seharusnya dijabat oleh Komisaris utama dan minimal 2 anggota komisaris, namun pada kenyataan dewan komisaris hanya dijabat oleh Komisaris utama tanpa anggota, parahnya lagi, komisaris utama merangkap sebagai Kepala Dinas di Pemkab Lampung Timur. Dengan kondisi tersebut bagaimana dewan komisaris menjalankan tupoksinya”, tandas Seno Aji.

Sementara, pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Perwakilan Lampung melalui Deputi Direktur Pengawasan, Aprianus Jhon Risnad dan Humas OJK, Dwi Krisno Yudi, belum menjawab konfirmasi awak media, hingga berita ini diterbitkan.

Redaksi-Sn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | W2B by JBM.CO.ID.