UPACARA WANARALABA GUNAKAN BUAH LOKAL BULELENG

2 min read

Foto JBM.co.id/Francelino: Bupati Agus hadiri upacara Wanaralaba

Spread the love

PULAKI-JBM.CO.ID – Upacara Wanaralaba (pemberian makanan kepada kera) di wilayah Pura Agung Pulaki, Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali, kini menggunakan buah lokal Buleleng.

“Penggunaan buah lokal di Kabupaten Buleleng nampaknya sudah mulai dilakukan oleh kalangan masyarakat Buleleng, baik sebagai sarana upacara maupun konsumsi pribadi. Buah lokal seperti buah jeruk, pisang, anggur serta bunga gumitir dan telur ayam kali ini digunakan sebagai sarana upacara Wanaralaba di Pura Agung Pulaki,” jelas Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana saat melakukan persembahyangan di Pura Agung Pulaki, Kamis (1/10/2020).

Baca Juga :  Trump Akan Tandatangani Stimulus, Rupiah dan IHSG Menguat

Sebelumnya, Agus menekankan kepada jajarannya agar seluruh aparatur sipil negara (ASN) Kabupaten Buleleng menggunakan buah lokal. Baik sebagai sarana upacara maupun kegiatan-kegiatan lainnya. Dengan menggunakan buah lokal dipastikan putaran perekonomian di Buleleng akan semakin meningkat khususnya pada sektor pertanian. “Kalau buah lokal terserap dengan baik maka mereka (petani) akan menjaga kualitas buahnya,” katanya.

Sementara itu, Kelian Ageng (pemimpin) Pengurus Pengempon Pura Agung Pulaki, Jro I Nyoman Bagiarta mengatakan upacara WAnaralaba digelar rutin saat upacara Pujawali di Pura Agung Pulaki lan Pesanakan Ida yang jatuh pada Purnamaning Sasih Kapat. Wanaralaba adalah sebuah tradisi yang sudah berjalan secara turun-temurun sebagai wujud syukur dan terimakasih kepada Tuhan.
“Apapun yang merupakan hasil bumi seperti jagung, pisang dan buah lainnya kita wajib mempersembahkannya,” ucapnya.

Baca Juga :  KPK Buka Diklat Daring Penyuluh Antikorupsi 2020

Bagiarta menambahkan, Wanaralaba wajib dilakukan setiap Purnama Kapat. Namun, pemberian makan kepada kera telah dilakukannya setiap hari bahkan kera tersebut diberikan makan tiga kali dalam sehari. Pembelian pakan kera ini bersumber dana dari punia (sumbangan) dan masyarakat umum yang mempersembahkan secara langsung saat melaksanakan persembahyangan. “Belakangan ini kenakalannya (kera) sudah tidak muncul lagi, setelah tiang tingkatkan dari kualtias makan, pagi jagung, siang buah dari ketela, tomat dan pisang. Laporan dari masyarakat sekitar jarang masuk ke rumah penduduk,” pungkasnya.

Baca Juga :  Bikin Gaduh Relawan Jokowi, KNPI Desak Erick Thohir Pecat Arya Sinulingga

Upacara Pujawali Pura Agung Pulaki yang sebelumnya dilakukan selama tujuh hari untuk tahun ini berlangsung selama tiga hari terhitung mulai tanggal 1 sampai 3 Oktober 2020 mendatang. Pemangkasan ini dilakukan untuk mengurangi kerumunan dan interaksi antar pemedek (umat) sesuai dengan protokol kesehatan COVID-19.

Penulis: Francelino
Editor: Sarjana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | W2B by JBM.CO.ID.