POLITIK: AKIBAT KORBAN POLITIK DI NASDEM 2019, JUAL TERRIOS TAHUN 2019 UNTUK BAYAR UANG SAKSI

2 min read

Foto Ist: Made Teja korban politik 2019, kini bangkit dengan budidaya porang

SUKASADA-JBM.CO.ID – Gara-gara para pimpinan Partai NasDem baik pimpinan DPW NasDem Provinsi Bali maupun pimpin DPD NasDem Kabupaten Buleleng, serta anggota dewan terpilih dari Nasdem di DPRD Bali, yang mengingkari janjinya, membuat mantan Ketua DPC Partai NasDem Kecamatan Sukasada, Made Teja, S.Sos, harus menjual mobil pribadi untuk membayar uang saksi Partai NasDem di Kecamatan Sukasada pada pemilu 2019 lalu.

Kamis (10/9/2020) pagi Made Teja menceritakan kepada media ini bahwa saat Pemilu 2019 lalu, ada perjanjian dari piminan Partai NasDem dan para caleg bahwa yang membayar saksi adalah para caleg. Kemudian caleg yang menang alias terpilih wajib mengembalikan uang saksi yang dibayar oleh caleg NasDem yang gagal.

Baca Juga :  Malaysia Belajar Pengelolaan LHKPN kepada KPK

Tapi faktanya berbeda. Janji tinggal janji. Para pimpinan Partau NasDem dan caleg terpilih di DPRD Bali adalah DR Somvir, mengingkari janjinya. Dan Teja harus menjual mobil pribadinya Terrios untuk membayar para saksi yang dilupakan para politisi NasDem tersebut.

“Bangkit di pandemi COVID-19. dulu pileg 2019 karena ulah pimpinan Partai NasDem, para caleg bayar uang saksi. Katanya dikembalikan saat calon terpilih. Katanya perjanjian para caleg dikoordinir pucuk pinpinan Partai NasDem Bali dan Kabupaten Buleleng,” ungkap Teja.

Kemudian? “faktanya semua bohong, NasDem merupakan partai restorasi tetapi otak pinpinan nggak jujur, saya caleg korban jual mobil Terrios tahun 2014 untuk bayar saksi saksi Rp 219 juta fullnya saksi Kecamatan Sukasada,” jawab Teja mengungkapkan kebobrokan pimpinan Partai NasDem Bali dan Buleleng.

Baca Juga :  VIRUS CORONA: DI BULELENG, STOK PANGAN AMAN HINGGA IDULFITRI

“Kalau pimpinan partai tidak konsisten dan jika tidak ada perubahan orang duduk di struktur, pileg yang akan datang hati-hati kompetisi lagi di NasDem! Jangan tertimpa nasib yang sama,” tegas Teja dengan nada geram.

Dia mengungkapkan bahwa setelah pesta demokrasi Pemilu 2019 selesai, para pimpinan Partai NasDem Bali dan Buleleng bersama calon terpilih, terputus komunikasi dengan caleg gagal dan konstituen di bawah. “Saat ini calon terpilih tidak pernah komunikasi dengan caleg tidak terpilih, kalau cari etika politik sudah tidak benar. Itu terpilih untuk kepentingan pribadi,” kritik Teja.

Baca Juga :  Lebaran Virtual, Herman Deru Silaturahmi dengan Masyarakat dan Bupati- Walikota se-Sumsel 

Tapi, Teja kini bangkit dengan budidaya porang. “Syukur ada jalan, Tuhan merestui di era pandemi COVID-19 tanpa modal, bisnis budidaya porang bisa membeli mobil kendatipun tidak baru, tetapi bisa kembali mobil melayang akibat politik caleg NasDem 2019 mungkin banyak yang senasib mari kita semangat baru. konsep BALI METANGI. Tanpa modal, bangkit di era COVID-19 kendatipun tidak terpilih 2019 lantaran tak punya uang kalah bukan kegagalan,” tegas Teja.

Penulis: Francelino
Editor: Sarjana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *