DENPASAR-JBM.CO.ID – Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati tampil sebagai narasumber dalam acara Webinar Kemenparekraf bersama Visit Indonesia Tourism Officer (VITO) Australia dengan tema ‘Re- Inventing Bali – What will be better in Bali after COVID’ , di Ruang Rapat Wagub Bali, Rabu (17/6/2020).

Wagub Cok Ace memaparkan bahwa jika dilihat dari tingkat kunjungan wisatawan mancanegara, maka di Tahun 2019 kunjungan wisatawan Australia ke Bali sangat tinggi dan Australia adalah pangsa pasar yang besar bagi Bali. “Untuk itu saya sangat berharap agar wisatawan Australia bisa kembali mengunjungi Bali nantinya,” ucap Wagub Cok Ace seperti dilansir Humas Pemprov Bali.

Wagub Cok Ace yang juga sebagai Ketua PHRI Bali ini juga menambahkan bahwa Pemerintah Provinsi Bali juga melakukan pemerikasaan ketat di pintu pintu masuk Bali. Salah satunya dengan persyaratan hasil PCR negatif bagi penumpang pesawat terbang yang akan datang ke Bali disamping itu penumpang pesawat juga wajib mengisi Health Alert Card (HAC) yang menggambarkan kondisi kesehatan penumpang serta orang yang dapat dihubungi dalam keadaan emergency.

Baca Juga :  Alhamdulillah, 15 Pasien Covid-19 Confirm Di Pacitan Menyusul Sembuh

Dalam mitigasi pasien di tengah pandemik COVID-19, urai Wagub Cok Ace, Pemerintah Provinsi Bali telah menyiapkan 14 rumah sakit yang siap dan terlatih dalam penanganan pasien COVID-19. Rumah sakit ini juga telah dilengkapi dengan ruang isolasi sesuai standar kesehatan yang ada. Tidak hanya itu, Bali juga memiliki 3 laboratorium yaitu laboratorium Sanglah, Warmadewa dan Udayana yang dapat melakukan lebih dari 500 PCR test per harinya.

“Dari sektor pariwisata, Bali telah menyiapkan protocol kesehatan di semua bidang kepariwisataan yang terfokus pada 3 hal utama yaitu Cleanliness, Health and Safety (CHS). Dengan penerapan CHS ini diharapkan Bali akan kembali bisa menjadi pusat pariwisata dunia ketika nantinya Bali siap dibuka untuk pariwisata,” paparnya.

Wagub Bali secara Panjang lebar menjelaskan kondisi Bali di tengah wabah COVID-19. Kata dia, saat ini dunia sedang menghadapi situasi sulit diakibatkan oleh pandemik COVID-19, termasuk di Bali. Dia menjelaskan, Bali pada awalnya tidak ada kasus terkonfirmasi positif hingga akhirnya per tanggal 4 Maret kasus positif COVID-19 mulai ada di Bali. Sejak saat itu, jumlah pasien terkonfirmasi positif di Bali terus mengalami peningkatan hingga 741 kasus (berdasarkan data tanggal 14 Juni 2020), dengan angka kesembuhan pasien 63, 9 %. Angka terkonfirmasi positif di Bali hanya 1, 9% dari angka positif di tingkat nasional dengan tingkat kematian akibat COVID-19 yang sangat rendah.

Baca Juga :  GUBERNUR KOSTER: 5 JULI SEMBAHYANG DI PURA BESAKIH, UMUMKAN SKEMA NEW NORMAL ALA BALI

“Bali terus berupaya keras untuk menekan pencegahan penularan COVID-19 dengan melakukan sinergitas baik dengan pemangku kepentingan dan melibatkan peran serta dari masyarakat,” jelasnya.

Wagub Cok Ace menambahkan, terdapat 3 kriteria utama dari 11 kriteria yang ditetapkan sebagai pedoman bagi suatu wilayah untuk membuka wilayahnya secara ekonomi. Salah satunya adalah penurunan konfirmasi positif hingga 50 % selama 14 hari dari posisi jumlah pasien terkonfirmasi positif sebelumnya.

Baca Juga :  Kakanwil Jabar Liberti Sitinjak Memimpin Pelantikan Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Bogor

Kata dia, seperti daerah lainnya di Indonesia, Bali juga telah melakukan berbagai strategi dalam upaya menekan penyebaran COVID-19. Disamping melakukan sinergitas dengan semua stakeholder yang ada, Bali juga menerapkan Gugus Gotong Royong yang melibatkan pecalang di desa adat di Bali, dimana para pecalang ini yang mengawasi arus keluar masuk warganya serta menjaga kedisiplinan warga dalam mematuhi protocol kesehatan yang ada.

Hal senada juga disampaikan oleh Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran II Kemenparekraf RI, Nia Niscaya. Kata Nia, pemerintah telah mempersiapkan impelmentasi dari penerapan CHS di Bali dimana Indonesia Tourism Development Coorporation (ITDC) Nusa Dua akan menjadi percontohan penerapan CHS.

“Persiapan penerapan CHS terus dilakukan kemudian dilanjutkan dengan pelatihan CHS bagi pekerja pariwisata serta simulasi penerapannya serta nantinya penerapan di berbagai destinasi wisata yang ada,” ungkap Nia.

Penulis: Francelino
Editor: Sarjana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here