NASIB UMAT ISLAM DI ZAMAN NEW NORMAL, SEBUAH PEMIKIRAN AWAL

4 min read

Prof. Dr.Ir. H. Koesmawan AS, M.Sc., M.BA., DBA

Spread the love

JAKARTA, WWW.JBM.CO.ID |_L’histoire se répète_ adalah kata-kata dalam Bahasa Perancis yang artinya, sejarah berulang, ini kalimat sering di kisahkan almarhum ayahku, Mayor Adang Soebandi, ketika menasehati saya, agar sering-sering membaca sejarah. Kamu akan melihat bahwa sejarah itu memang sering berulang. Polanya sama, hanya waktu, tempat dan situasi serta tokoh-tokohnya berbeda.

Wanti-wanti ayahku mengingatkan, agar saya jangan kaget, heran dan merasa serba tahu. Kata ayah, meniru Pak Harrto. _Ojo Dumeh, Ojo kagetan dan Ojo gumunan_ ditambah lagi _“Ojo Rumongso Biso, nanging kudu Biso Rumongso_ Jangan merasa bisa tetapi bisa merasa lebih utama. Semoga Boso Jawiku dikoreksi Jeng Enny lan Jeng Lies, gadis saking Solotigo. Masalah ayat dan hadist mohon koreksi Muhammad Najib.

Sejarah dimulai dari Kisah Bangsa Quraiy dengan tokoh legendaris _Si Abu Jahal laknatulloh. Bahkan istri Abu Lahab yang paling gemar menghina Nabi Muhammad SAW. Silahkan buka Surat ke 112, “Tabat Yadaa Abii Lahabiwwatab”. Tentang orang orang Quraisy ini sangat menghargai Muhammad sebelum diangkat Rasul, disebabkan beliau keturunan bangsawan Quraiys dan juga beliau keponakan Abu Thalib, pamannya yang melindunginya. Jadi pemuda Muhammad disenangi Orang Quraisy bahkan diberi gelar Al Amin (orang yang dapat dipercaya). Zaman ini dikenal sebagai Zaman Jahiliyah.

Kisah legendarinya, ketika empat suku terkenal ingin tercatat dalam sejarah yang memindahkan Hazar Aswad (Batu Hitam Yang harus dicium saat kita Tawaf). Bagaimana caranya? Bingung mereka, lalu memanggil pemuda Muhammad. Maka dengan tersenyum, dibuka sorban beliau, lalu semua suku memegang ujung-ujung. Masih bingung, siapa yang meletakkan ketengah sorban. Mereka meminta Pemuda Muhammad, mengambil dan meletakkan ditengah. Maka diangkatlah batu itu, rame -rame, diketakkan ditempat yang bisa kita cium hari ini. Rasa adil pun melanda mereka.

Baca Juga :  MENGATASI MASALAH EKONOMI DENGAN LANGKAH NON-EKONOMI

Demikianlah ketika, masih berbicara ahlaq, hubungan keluarga, ilmu-ilmu, perdagangan dan lain lain. Maka, tak ada persoalan bangsa Quraiy dengan Pemuda Muhammad.namun ketika ide-ide Islam itu berkembang dan ajaran Nabi Muhammad SAW, mulai _menyangkut masalah kemasyarakatsn lalu bakal menyentuh kekuasaan, maka mulailah orang banyak yang membenci nabi Muhammad, padahal sudah mereka beri gelar Al Amiin_ Jadi tatkala ajaran Nabi SAW telah berkaitan dengan “power” yang ujung-ujungnya, kelak, adalah Negara Islam dan atau Kekalifan Islam, maka kebencian menjadi jadi, bahkan nabi Muhammad menjadi bahan ejekan, hinaan, lalu sudah direncanakan untuk dibunuh. Tapi gagal terus, semua upaya bangsa Quraisy atau Golongan Quraisy, _GOL-QURs_ itu gagal.

Akhirnya, karena gagal untuk menghancurkan Muhammad dan Ide-idenya. Dibuatlah negosiasi dengan negosiatornya Abu Thalib. “Wahai Muhammad, apa yang kamu mau?. Ingin gadis cantik jadi istrimu, silahkan pilih yang paling cantik dari Golqurs. Ingin kekuasaan, silahkan kamu mau jadi apa. Ingin harta yang banyak kami siap. Ingin kendaraan siap. Jadi kamu dapat Tahta, Harta, Wanita dan Onta sebanyak apa yang kamu mau. SILAHKAN. “Pokoknya hidupmu bakal srnag Muhammad, tapi hentikan ajaran-ajaranmu itu”. Lalu gentian, “Orang Quraisy akan ikut agamamu Muhammad”. Jadi gantian menyembah lah. Toleransi gaya Zaman Jahiliyah gitu.

Syaratnya, “ kembali menyembah berhala Lata Uza. Jawaban Rasul SAW yang Dibimbing Allah SWT, “Qul yaa ayyuhal kafiruun”. Inilah dasar toleransi Islam terhadap agama lain. “Lakum diinukum Waliyadiin”. Agama kamu untukmu dan agamaku untukkku, tak ada agama bareng-bareng. Apalagi “Semua agama benar”. Jangan keluar kata-kata ini, karena Al Quran menegaskan, “Inna diinna indalloh ”. Sesunguhnya agama yang benar disisi Allah ialah agama islam. Laa Iqraha Fiddiin. Tidak ada paksaan dalam agama islam. Karena sudah jelas perbedaan yang beriman dan yang kafir.

Baca Juga :  “ICW FOKUS SAJA DALAM PENCEGAHAN KORUPSI, DARIPADA MENGAWASI GERAK-GERIK PIMPINAN KPK”

Jadi bagaimana yang benar ditengah-tengah keberagaman ini. Jawabannya, semua hubungan dibenarkan. Misalnya, ajaran ahlaq, ajaran saling tolong, sayang orang tua dan saudara, memuliakan tetangga, bisnis dalam berbagai bidang ajaran saling hormat saling menghargai, kita boleh mengatakan bahwa semua agama, Islam , Hindu Keristen, Budha adalah SAMA, mengajarkan semua itu. Tegasnya, semua upaya hubungan kemanusiaan dibenarkan, kecuali yang dilarang, misal menikahkan wanita muslim dengan pria non-muslim. Kalau sebaliknya, masih berdebatan. Dalam Bahasa anak milenial, inilah Islam yang Rohmatan Lil alaamiin.

Ucapan Rasul SAW yang menjadi sebuah lagu Bimbo, “ Wahai Paman Abu Tholib, andaikan Matahari kau berikan ke tangan kananku dan Rembulan ke Tangan kiriku, lalu aku harus ikut agamamu. Lebih baik mati yang lebih aku cintai”. Inilah Jihad Rasululloh, padahal terhadap Pamannya yang selama ini melindunginya. Intinya, Rasululah SAW, tidak menyerah oleh bujuk rayu, bahkan ancaman apapun. Alhamdulillah, hingga kini Islam masih hidup dan Berjaya.

Zaman Now, kembali ke pembukan tulisan ini yakni L’histoire se répète (sejarah berulang). Hari ini, saudara ingin bicara ahlaq, sopan santun, etika, perdagangan saham, kebudayaan, musik, bank Syariah dan apa pun yang akan saudara bicarakan, silahkan. Semua orang tidak akan membenci saudara. Tapi awas begitu saudara mengajak, ke Negarra Islam Indonesia atau N-11. Mengajak ke kalifahan Islam. Maka, siap siap saudara akan dibenci, dicaci bahkan dijauhi oleh musuh musuh islam, dan tak menutup kemungkinan dibenci dan dijauhi oleh kawan seiring, mungkin juga oleh saudara sendiri.

Baca Juga :  BELAJAR DARI SEJARAH, PEDIHNYA BERPISAH PERKAWANAN KARENA IDEOLOGI ATAU PERSEPSI

Maka Zaman Jahiliyah dan Zaman Modern dalam konteks ini. _TIDAK PERNAH BERUBAH Itulah pengulangan sejarah. Saudara yang berpendirian ini, masuk kelompak : Islam Kaaffah”. “ Masuklah kamu kedalam Islam secara menyeluruh”. Ini artinya, kita akan bicara Ibadah, amal, ahlaq, muamallah, hubungan persaudaraan sebangsa dan senegara, politik dan kilafah dan semua-semua alias KAAFFAH.

Kesimpulan, karena sejarah akan berulang, maka pada Zaman New Normal nanti alias zaman normal baru setelah Covid-19, dimana keadaan bakal banyak yang berubah, termasuk pekerjaan. Akibatnya antara lain, bakal banyak pekerjaan yang hilang. Bakal banyak pula toko-toko atau mal-mal yang tutup. Maka nasehat mang Engkoes, _Kembali dulu ke zaman Jahiliyah_ yakni zaman jangan dulu berbicara keras tentang Islam dan politik. Islam dan Kilafah. _Apalagi Negara Islam Indonesia Lebih baik kita isi dengan ilmu pengetahun, seni dan teknologi, asal dalam bingkai ajaran islam yang mulia. Persaudaraan antar teman seiring terus ditingkatkan. Semangat untuk menjadikan umat kaya raya, kaya hati dan Rahmatan Lil alamiin terus upayakan. Insya Allah aman. /Red-jbm

Editor ; SA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *