LAILATUL KADAR, SEBUAH UJIAN YANG BERAT BAGI SEORANG MUSLIM

4 min read

Prof. Dr.Ir. H. Koesmawan AS, M.Sc., M.BA., DBA

Spread the love

Pada Kamis, 14 Mei 2020

JAKARTA, WWW.JBM.CO.ID |Saya mendapat pemahaman begini tentang tiga hal; Satu, Intelelectual Quotient (IQ) Dua, Emotional Quotient (EQ) dan Tiga, Spiritual Quotient (SQ).

Satu, IQ ialah sesuatu yang berkaitan dengan akal pikiran, atau otak atau rasionalitas. Disini semua manusia sama tak memandang suku, bangsa, agama dan golongan (SARA), semua bisa berpikir rasional. sesuatunya bisa dicapai dengan belajar. Cara belajarnya umumnya formal, mulai PAUD, Tk, Sd dst hingga S1, S2 dan S3. IQ akan membawa orang berbeda bidangnya ada dokter, insinyur, tantara , polisi. Lalu ada yang bergelar Dr. Ir. SE, SH, M.Ag dst.

Dua, EQ, atau emosi atau perasaan. Ini pun semua sama, namun banyak berbeda. EQ bisa didapat dengan belajar baik formal maupun informal, dengan cara mengikuti orang lain, lebih banyak dari pengalaman hidupnya. EQ berkaitan dengan perasaan, cara berhubungan, sopan santun, etika hidup. Manusia hidup dengan membawa IQ dan EQ. Bahkan banyak penelitian yang menyimpulkan bahwa kesuksesan seseorang itu 80% EQ dan hanya 20% saja IQ. Singkat kata. Seseorang sukses itu, disebabkan oleh 80% kepribadiannya, hingga dia disenangi banyak, pandai bergaul, lalu plus 20% saja oleh kepintarannya, baik ilmunya, cara kerjanya dsb. Dengan perkataan lain IQ itu OTAK, akal, pikiran dan Rasionalitas. Objektifitas. Sedangkan EQ, emosi, perasaan, ketergantungan, subjektifitas, cinta, kasih sayang, hubungan personal. Kalau kita bisa memamfaatkan EQ, maka IQ mengikuti kesuksesan kita. Belum tentu, orang menilai kita, karena IQ nya saja.

Bagaimana dengan hal ketiga, yakni SQ. SQ Lebih kepada keyakinan seseorang kepada DZAT, Supra Sistem, jauh diluar jangkauan pikiran dan perasaan. Bila IQ dan EQ berhubungan dengan hal hal yang kasat mata, maka SQ menyangkut hal hal yang Ghaib. Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa. Berkaitan dengan kayakinan adanya Hari Kiamat, Hari Perhitungan (Yaumul Hisab), Surga dan Neraka. Malaikat, Iblis, Syeiton. Pendapat mang Engkoes, kesempurnaan hidup manusia ialah, ketika dia benar-benar menjalankan SQ, EQ dan IQ secara seimbang. Bagi seorang muslim yang Kaffah, maka SQ itu, meliputi semuanya, sehingga IQ dan EQ hanyalah sebuah SUBSITEM dari Sistem SQ. SQ ini lebih berkaitan dengan kehidupan keagamaan seseorang.

Baca Juga :  CATATAN RINGAN MAHASISWA KKN: MAHASISWA KKN UM BANTU PKK DESA SUMBER SEKAR LUNCURKAN TOMAT ESTU

Jadi dalam kehidupan beragama, khususnya kaum muslimin, ada seseorang yang, menganggap agama itu, hanyalah sebagai bagian kecil saja dari hidupnya. Islam hanyalah Syahadat, Shalat Puasa, Zakat dan Naik Haji. Titik. Adapun politik, pekerjaan, jangan dicampurkan dengan agama. Inilah pendapat kaum sekuler membedakan agama dan negara. Zaman dahulu di Indonesia dikenal ada kelompok Frij Denker (pikiran bebas, tak terikat agama). Kerk is Kerk, Land is Land. Ada kelompok yang berpendapat Agama itu adalah Sistem dalam hidupnya sementara, ahlaq, muamalah, ibadah salat puasa , politik, hukum dan semua semua adalah sub-sistem dari Islam. Kelompok inilah yang disebut Islam Kaffah. Tujuan hidupnya hanya satu, “ Mencapai Rida Allah SWT. TITIK”. Dalam istilah lain, Islam itu Multisila. Dunia dan Akherat.

Dua dalil yang dipegang kelompok Islam Kaaffah ini ialah, SATU. “ Ya ayyuhalladziina aamanuu, udhdhuluu fi Silmy Kaaffah. Walaa tattabiu khutuwatisysyaeton. Innahu lakum Adhuwummubiin.” (Wahai orang yang beriman, Masuklah kedalam Islam secara menyeluruh, ahlaq, ilmu, etika, politik. Dan jangan ikuti langkah syeiton, memilih dan memilah Islam. Hanya diambil salat, puasa, zakat dan haji saja. Sebab dia adalah musuhmu yang nyata). DUA, “Taroqtufikum Amraini. Intamasaktum Bihimaa. Lantadlilu abadaa. Kitabulloh Wasynaturrosul” (Ada dua hal yang kalau kamu, bersandar kepadanya, tidak akan tersesat, Al Quran dan Hadist). Tak heran, kehidupan Orang Islam Kaaffah ini, selalu berdasar kepada Al Quran dan Hadist.

Baca Juga :  Bertahan dari Covid-19 dengan Merubah Pola Hidup

Kini apa kaitannya penjelasan diatas dengan Lailatul Qadar. Saya kutip penjelasan di Google sbb: Sebuah hadis melalui mujahid yang menceritakan, bahwasanya Rasulullah pernah menceritakan tentang seorang lelaki dari kalangan kaum Bani Israil, ia menyandang senjatanya selama seribu bulan untuk berjuang di jalan Allah. Kaum muslimin merasa takjub atas hal tersebut. Maka Allah segera menurunkan firman-Nya:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan,” (QS Al Qadr 1-3). Jelas di malam itu ketika malaikat-malaikat turun ke bumi maka suasana alam akan berbeda dari biasanya. Lebih hangat dan lebih sejuk daripada sebelumnya. Pernahkah ada yang melihatnya, Wallohu Alam. Tetapi saya, mang Engkoes, Yakin Malam Lailatul Kadar ini. Pasti Ada. Nah, kaum muslimin semua PASTI punya keyakinan bahwa, Malam Kemuliaan itu ADA.

Selain itu doa-doa yang dipanjatkan kepada Ilahi akan diaminkan oleh malaikat-malaikat tersebut sehingga menjadi mempercepat pengabulan doa hamba-hambaNya. Maka sungguh beruntunglah orang-orang yang ketika malam Lailatul Qadar dapat memohon doa kepada-Nya dengan didoakan pula oleh malaikat-malaikat yang kebetulan sedang bertugas turun ke muka bumi. Insya Allah, INI BENAR.

Apa yang menjadi ujian bagi umat Islam?. Disinilah saya berpendapat, bahwa Lailatul Kadar itu tak bisa kita dekati hanya dengan pola IQ saja, atau pola EQ atau SQ saja. Dengan perkataan lain Lailatul Kadar harus dimaknai secara integratif antara _Akal Pikiran, Perasaan dan Keimanan_ Kalau kita memaknai secara integratif seperti itu, maka kita tak akan menghina atau mengejek orang yang Lek-Lek-an, bagadang menunggu lailatul Kadar, karena akan datang malam hari, jangan sampai ketika Lailatul Kadar datang, kita sedang tidur. Bismillah, tulisan mang Engkoes ini, mengajak kita menantinya dengan penuh harap. Bahkan menjaganya dari siang hari. Kegiatannya beragam. Mulai dari Itiqaf (diam di masjid), membaca Al Quran, membaca buku buku agama dan ilmu lainnya. Bersilaturahmi (maaf, sementara di rumah saja-covid 19) dan lain lain yang bermanfaat, termasuk berbagi kepada sesama.

Baca Juga :  MAKNA YANG TERKANDUNG PADA MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN

Hanya saja, para ulama banyak yang berpendapat agar, ditunggu disepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, bahkan ada petunjuk agar ditunggu, pada tanggal ganjil _yakni, 21, 23, 25, 27 dan 29 Ramadhan_ Nah, tepat tanggal 21 Ramadhan 1414H inilah tulisan mang Engkoes dipersembahkan kepada pembaca sambil menunggu datangnya Lailatul Kadar. Semoga ada yang memahaminya dengan seksama. Mengapa ini ujian berat?, karena sungguh tidak mudah, akal-pikiran-perasaan dan keimanan, secara serempak, menanti datangnya Malam Kemuliaan ini. Tidak mudah. Saya berharap, semua yang membaca ini, berjumpa dengannya. Sampai jumpa di Ramadhan 1442H yah. Semoga Bangsaku tetap jaya. AAMIIN. /Red-jbm/Ichwan Aridanu

Editor ; SA

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *