LOCKDOWN: KUALITAS JELEK, MASYARAKAT BONDALEM TOLAK BERAS JATAH DARI PEMKAB

3 min read

BONDALEM-JBM.CO.ID – Baru dua hari diberlakukan status karantina desa bagi Desa Bondalem, Kecamatan Tejakula, Buleleng, Bali, namun sudah ada masalah. Masalah tersebut terkait dengan kualitas beras yang disediakan Pemkab Buleleng untuk masyarakat Desa Bondalem yang menjalani karantina.

Sejumlah warga beramai-ramai mengembalikan beras yang dikirim Pemkab Buleleng dan dibagikan BUMBes Bondalem. Masyarakat kecewa karena beras yang dibagikan itu kualitasnya kurang bagus tidak seperti beras yang dibagi terlebih dahulu pada hari pertama karantina desa diberlakukan.

Hanya dalam hitungan menit, masalah kualitas beras yang kurang bagus dan ditolak masyarakat Bondalem itu langsung ramai dibahas di media sosial (Medsos) seperti facebook (FB).

Akun FB Goesde pun langsung menyampaikan aksi penolakan beras itu dengan cuitannya, “Baru dua hari status Desa Bondalem PSBB sudah ada masalah di logistic utamanya soal kwalitas beras yang dibagikan kepada rakyat Bondalem di wilayah dusun tertentu.”

Baca Juga :  GELAR TASYAKURAN HARI DHARMA KARYADHIKA 2019 KAKANWIL JABAR POTONG TUMPENG DAN SERAHKAN PENGHARGAAN

Dalam lanjutan cuitannya, akun FB Goesde menyatakan, “Hal ini sangat menyakitkan warga Desa Bondalem. Sejatinya Bondalem bisa cukup terapkan PSBB berskala wilayah dusun dan bukan total, karena hal itu akan mengganggu aktivitas ekonomi desa , yang mana 75% warga masyarakat Desa Bondalem adalah pelaku ekonomi di segala sektor.”

“Semoga saja rakyat Bondalem tidak banyak yang stress dan juga trauma baik secara fisik, psikis maupun ekonomi akibat berlakukan PSBB total….,(dua tiga tikus merusak rumah tapi yang dibakar adalah rumahnya)heeee.. Heee kebijakan ini saya lihat tidak sematang situasi dan karakteristik Desa Bondalem itu sendiri,” ujar Goesde dalam cuitannya.

Kualitas beras yang kurang bagus itu juga mendapat reaksi keras dari LSM Gema Nusantara (Genus). Ketua Badan Eksekutif LSM Genus, Antonius Sanjaya Kiabeni pun langsung berteriak lantang. Ia menilai Pemkab Buleleng hanya bisanya mengambil keputusan karantina tetapi tidak memperhatikan kualitas logistic terutama beras yang diberikan kepada masyarakat Desa Bondalem yang dikarantina. “Masak beras kuning kayak gini mau dikasih ke masyarakat Bondalem. Banyak masyarakat tolak beras itu karena tidak layak dikonsumsi manusia,” kritik Anton.

Baca Juga :  Hillary Curi Perhatian Jagad Politik Indonesia

Bagaimana komentar Perbekel Bondalem Drs Ec. Ngurah Sadu Adnyana? “Ya memang ada beberapa orang yang mengembalikan. Tetapi ada masyarakat yang sebelumnya kembalikan berasnya, barusan kesini marah-marah dan ambil kembali berasnya. Katanya dia dipaksa mengembalikan beras ini,” jawab Perekel Ngurah Sadu, Rabu (6/5/2020) sore.

Kenapa bisa terjadi penolakan? Perbekel Ngurah Sadu menceritakan, ada orang yang sengaja mengkoordinir aksi penolakan atau pengembalian beras tersebut. “Kan biasa, ada yang sebelumnya makannya enak-enak lalu dikasih beras Bulog jadi kaget. Kalau masyarakat biasa mereka terima kok, tidak masalah. Ini karena ada orang yang sengaja mengkoordinir tolak beras jatah ini,” jelas Perbekel Ngurah Sadu.

Baca Juga :  Gubernur Jabar : Tinggal di Desa, Rezeki Kota, Bisnisnya Mendunia

Ia menyatakan bahwa bagi yang tidak meneriam alias mengembalikan dipersilahkan. Kalau memang tidak mau menerima beras jatah ini akan dilakukan koordinasi dengan Pemkab Buleleng untuk mengganti beras tersebut. “Silahkan kembali, nanti kita ganti. Saya akan koordinasi dengan Pemkab Buleleng,” papar Perbekel Ngurah Sadu.

Kata dia, beras kiriman pertama sebanyak 10 ton itu tidak masalah. Beras yang ditolak masyarakat adalah beras kirim kedua sebanyak 30 ton. “Kalau yang pertama bagus, tidak masalah. Ini beras kiriman kedua 30 ton itu,” ucap Perbekel Ngurah Sadu.

Penulis: Francelino
Editor: Jering Buleleng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *