VIRUS CORONA: DI BULELENG JUMLAH KASUS COVID-19 SUDAH MENURUN

3 min read
Spread the love

SINGARAJA-JBM.CO.ID – Perkembangan wabah virus corona (COVID-19) di Buleleng terus menunjukkan penurunan dari hari ke hari. Ini merupakan kabar gembira buat masyarakat Buleleng karena di saat Kemenkes RI menetapkan Buleleng sebagai salah satu daerah terjangkit di Indonesia, justru perkembangan virus maut produk Cina itu malah menunjukkan tren menurun.

Sekretaris Gugus Percepatan Penanganan COVID-19 Kabupaten Buleleng Drs. Gede Suyasa, M.Pd mengungkapkan, bahwa saat ini, PDP yang terkonfirmasi masih satu orang, tiga pasien sebelumnya dinyatakan negatif dan sembuh.

Bahkan, PDP baru yang sempat di rawat di RS Pratama Giri Emas sudah dinyatakan negatif, dan saat ini bukan lagi sebagai pasien COVID-19.

Suyasa yang adalah Sekkab Buleleng itu juga mengungkapkan, ODP yang teridentifikasi di Buleleng secara kumulatif tetap berjumlah 78 ODP dengan rincian dari sebelumnya ODP yang masih bergejala berjumlah dua ODP, kini berkurang satu, karena sudah tidak bergejala.

Baca Juga :  RW 08 RAWAKALONG BENTUK POSKO COVID-19

ODP yang sudah tidak bergejala dan sudah selesai masa pantau, dijelaskan Gede Suyasa melalui teleconference dengan awak media, Rabu siang (8/4/2020), berjumlah 57 orang bertambah satu dari sebelumnya.

“ODP yang sudah tidak bergejala, namun masih dalam masa pantau berjumlah 20 ODP. Untuk Orang Tanpa Gejala (OTG) di Buleleng sebelumnya 160 orang, per hari ini berjumlah 163 orang dengan tambahan tiga orang dari hasil tracing kontak erat dengan PDP 9,” urai Suyasa dalam viedo conference (Vicon) di ruang kerjanya, Rabu (8/4/2020) siang.

Suyasa menguraikan, saat ini juga pemantauan terhadap pelaku perjalanan wilayah terjangkit dan wilayah transmisi lokal (tanpa gejala) yang sudah berakhir masa pantau selama 14 hari sebanyak 588 orang. Sisa yang masih dipantau oleh Puskesmas sampai saat ini berjumlah 968 orang dengan rincian, pekerja kapal pesiar 300 orang, TKI lainnya 32 orang, WNA 4 orang, pulang dari luar negeri dan lain-lain 4 orang, dan orang yang datang dari daerah transmisi lokal di Indonesia berjumlah 628 orang.

Baca Juga :  Ketua Projo Pacitan: Jangan Bohongi Masyarakat Dengan Mencatut Nama Bupati Indartato

“Dari hasil tersebut menunjukkan jumlah kasus COVID-19 di Buleleng sudah mengalami penurunan,” papar Suyasa.

Pada kesempatann itu, Suyasa mengharapkan adanya sinergi dengan pemerintah desa dan desa adat untuk bersama-sama mengatasi dampak pandemi COVID-19 di Buleleng. Sinergi dimaksud salah satunya dengan pemberian sembako pada masyarakat miskin terdampak. Nantinya selain pemerintah daerah, pemerintah desa dan desa adat diharapkan dapat memberikan bantuan serupa.

Dalam kesempatan itu, Suyasa mengatakan Pemkab Buleleng, melalui Dinas Sosial Kabupaten Buleleng saat ini tengah mempersiapkan bantuan sosial untuk masyarakat miskin terdampak dengan program Jaring Pengaman Sosial (JPS). Bantuan tersebut nantinya akan berupa sembako dan bantuan non tunai yang dapat digunakan di E-Warung yang telah ditunjuk. Jumlah Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang masuk dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) di Buleleng saat ini berjumlah 68.005 jiwa.

“Sebelumnya pemerintah pusat sudah mengalokasikan dana untuk 38.557 jiwa, sedangkan sisanya yakni sebanyak 29.448 jiwa akan ditanggung oleh pemerintah daerah bersinergi dengan pemerintah desa dan desa adat,” ujarnya.

Baca Juga :  Achmad Yurianto: Bertambah 38 Orang, Total 172 Orang Positif Covid-19 Hingga 17 Maret

Dinas Sosial Kabupaten Buleleng baru saja mendapatkan informasi dari Dinas Sosial Provinsi Bali bahwa Buleleng mendapatkan tambahan bantuan untuk 14.005 jiwa dari pemerintah pusat. Sehingga sisanya sebanyak 15.443 KPM yang akan ditanggung oleh pemerintah kabupaten dan pemerintah provinsi secara bergotong royong. Pemerintah desa dan desa adat diharapkan dapat merelokasi dana untuk menyiapkan bantuan terhadap masyarakat miskin terdampak, yang tidak masuk dalam DTKS. “Disini kan tidak hanya KPM yang masuk dalam DTKS saja yang terdampak, bisa saja yang diberhentikan bekerja sementara, tidak terdaftar atau belum terdaftar juga kena dampaknya, inilah yang nanti dijawab dengan APBDes,” pungkas Suyasa.

Penulis: Francelino
Editor: Jering Buleleng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *