Tim Advokasi Beberkan Kejanggalan Penangkapan Pelaku Teror Air Keras Novel Baswedan

2 min read
Spread the love

JAKARTA – JBM.co.id – Tim Advokasi Novel Baswedan membeberkan sejumlah kejanggalan dalam penangkapan dua tersangka kasus penyiraman air keras kepada penyidik KPK tersebut. Salah satunya soal sketsa wajah terduga pelaku yang pernah dirilis polisi ke publik.

Menurut mereka, apakah sketsa wajah pelaku yang pernah disebar ke publik sama dan mirip dengan dua pelaku yang diamankan atau tidak. Karena mereka merasa jika temuan polisi dalam penangkapan dua terduga pelaku seolah-olah semuanya baru, jika dibandingkan dengan klaim berbagai temuan polisi selama ini.

“Temuan polisi seolah-olah baru sama sekali. Misal apakah orang yang menyerahkan diri mirip dengan sketsa-sketsa wajah yang pernah beberapa kali dikeluarkan Polri. Polri harus menjelaskan keterkaitan antara sketsa wajah yang pernah dirilis dengan tersangka yang baru saja ditetapkan,” ujar tim advokasi Novel Baswedan, M Isnur melalui keterangan tertulis, Sabtu (28/12/2019).

Baca Juga :  Putusan MK Nomor 55/PUU-XVII/2019, Menolak Provisi Pemohon Uji UU Tentang Pemilu, Pemilihan Kepala Daerah Yang Diajukan Perludem

Isnur juga meminta Polri agar tidak menyembunyikan pelaku utama teror air keras kepada Novel Baswedan.

Tak hanya itu, Isnur juga mengungkapkan ada kejanggalan lainnya dari penetapan dua pelaku ini. Isnur menduga bahwa kedua orang ini telah ‘pasang badan’ untuk menutupi pelaku utama.

“Kepolisian harus mengungkap motif pelaku tiba-tiba menyerahkan diri, apabila benar bukan ditangkap. Dan juga harus dipastikan bahwa yang bersangkutan bukanlah orang yang ‘pasang badan’ untuk menutupi pelaku yang perannya lebih besar,” katanya.

Baca Juga :  LAKALANTAS: TERLIBAT ADU JANGKRIK, TOYOTA STARLET DAN HONDA CRV RINGSEK

Adapun tiga kejanggalan itu adalah, pertama, adanya SP2HP (Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan) tertanggal 23 Desember 2019 yang menyatakan pelaku belum diketahui.

Kemudian Perbedaan berita yaitu kedua polisi tersebut menyerahkan diri atau ditangkap, serta temuan polisi seolah-olah baru sama sekali (contoh sketsa wajah).

“Oleh karena itu, Polri harus membuktikan pengakuan yang bersangkutan bersesuaian dengan keterangan saksi-saksi kunci di lapangan,” jelasnya.

Isnur juga meminta polisi segera mengungkap aktor utama dalam pelaku teror Novel. Menurutnya, mustahil bila penyiraman Novel hanya dilakukan oleh dua orang.

Baca Juga :  #2 LHP BPK-RI BANGKITKAN KEMBALI GOYANGAN POLEMIK TANAH HPL BATU AMPAR?

“Kepolisian harus segera mengungkap jendral dan aktor intelektual lain yang terlibat dalam kasus penyiraman dan tidak berhenti pada pelaku lapangan. Hasil Tim Gabungan Bentukan Polri dalam temuannya menyatakan serangan kepada Novel berhubungan dengan pekerjaannya sebagai penyidik KPK. KPK menangani kasus-kasus besar, sesuai UU KPK, sehingga tidak mungkin pelaku hanya berhenti di 2 orang ini, oleh karena itu perlu penyidikan lebih lanjut hubungan 2 orang yang saat ini ditangkap dengan kasus yang ditangani Novel atau KPK,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *