Begini Jejak Kasus Dugaan Korupsi Cak Imin dalam Proyek Infrastruktur Kementerian PUPR

2 min read
Spread the love

JAKARTAJBM.co.id – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan menjadwalkan pemeriksaan ulang terhadap Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin.

Sedianya Cak Imin akan menjalani pemeriksaan pada hari Selasa, (19/11/2019) sebagai saksi dalam kasus suap proyek pembangunan infrastruktur di Kementerian PUPR tahun 2016 lalu.

“Pasti akan dijadwalkan ulang, tunggu saja jadwalnya,” kata Kepala Bagian Pemberitaan dan Publikasi KPK, Yuyuk Andriati di kantornya, Selasa, (19/11/2019).

Pemeriksaan terhadap Cak Imin berawal dari surat permohonan Justice Collaborator yang dilayangkan mantan politikus PKB Musa Zainuddin pada Juli 2019. Dalam suratnya Musa mengungkapkan dugaan aliran duit ke petinggi PKB yang tak pernah terungkap di persidangan.

Baca Juga :  Asintel Sumut Pimpin Operasi Penangkapan DPO Asal Kejari Medan Terkait Tipikor Dinas Perindag Medan

Dalam suratnya Musa mengatakan kasus suap yang menjerat dirinya berawal dari permintaan agar dirinya menghadap Ketua Fraksi PKB DPR, Helmy Faishal Zaini tahun 2015 lalu.

Dalam pertemuan itu kata Musa, Helmy mengatakan bahwa dirinya akan diangkat sebagai Ketua Kelompok Fraksi PKB di Komisi Infrastruktur sebagaimana pesan Cak Imin.

Musa kemudian menghadap Sekretaris Fraksi PKB DPR, Jazilul Fawaid. Jazilul kata Musa meminta kepada dirinya agar mengamankan proyek yang menjadi jatah atau bagian PKB.

Kemudian, Direktur Utama PT Windhu Tunggal Utama Abdul Khoir mengaku tertarik menggarap proyek pembangunan Jalan Taniwel-Saleman senilai Rp 56 miliar. Sementara, rekanannya, So Kok Seng alias Aseng, Komisaris PT Cahaya Mas Perkasa tertarik menggarap proyek rekonstruksi Piru-Waisala senilai Rp 52 miliar. Untuk kedua proyek itu, Khoir menjanjikan Rp 7 miliar kepada Musa. Fakta sidang berhenti pada penyerahan uang ini.

Baca Juga :  Diduga Terlibat Korupsi Rp 63 M, Sales PT Dok dan Perkapalan Turut Diadili

Musa kemudian menyerahkan uang sebesar Rp6 miliar kepada Jazilul di kediaman Musa di Kompleks DPR.

Dilansir Tempo, Musa mengatakan penyerahan uang itu merupakan respon atas percakapan bersama Jazilul beberapa bulan sebelumnya. Saat itu, Jazilul mengatakan Muhaimin sedang membutuhkan logistik mendorong kader PKB agar maju dalam bursa calon Gubernur Jawa Timur. Nama yang sedang digadang-gadang adalah kerabat Muhaimin.

Baca Juga :  KASUS SALING HUJAT DI FB: PERBEKEL TAMBLANG JADI TERSANGKA

Setelah menyerahkan uang kepada Jazilul, Musa mengaku langsung mengontak Helmy Faishal Zaini. Ia meminta Helmy menyampaikan pesan kepada Muhaimin bahwa ada uang Rp 6 miliar yang sudah diserahkan kepada Jazilul.

Yuyuk Andriati tak menyangkal bahwa Muhaimin diperiksa karena keterangan dari Musa ini.

“Kita bisa saja mengaitkan dengan itu, tapi saya rasa lebih tepat untuk menghadirkan saksi sesuai kebutuhan ya,” kata dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | W2B by JBM.CO.ID.